Jumat, 09 November 2018

Love Story


Tuhan Yang Kirimkan
Oleh Muhammad Wahyu Wibowo

            Cerita ini aku buat berdasarkan pengalaman pribadiku apapun yang aku buat dalam cerita ini tidak ada yang aku ubah, akan aku buat cerita ini menjadi dongeng yang nyata dalam dunia. Dunia inilah yang akan aku jadikan titik balik dari proses menjalani kehidupan. Bukan hanya itu, kalian tidak akan pernah menduga cerita yang aku buat ini benar-benar nyata dan terjadi pada diriku sendiri. Semoga bermanfaat bagi kalian yang membaca.
            Aku sendiri tidak tahu harus memulai cerita ini dari mana. Namun, tidak apa? Akan aku ceritakan secara beruntun agar perempuan yang mengharapkan cerita inipun dapat memulai mengingat kembali perjalannya ketika mengenalku.
            Hari Belum Menunjukkan Perubahan...
            Hari masih berjalan layaknya hari-hari biasa yang setiap orang lalui, tidak ada yang menarik pada hari-hari ini. Bahkan bisa dikatakan sangat membosankan. Datang ke sebuah sekolah swasta ternama yang ada di tengah kota, setiap pagi kemudian berseda gurau dengan teman sesama guru magang.
            Ya, memang benar saat itu kondisiku sedang dalam menjalankan tugas mengajar di sekolah swasta. Dimana aku mendapatkan kesematan untuk mengabdikan diri sebagai seorang pengajar. Setelah hari penerjunan dalam benakku hari itu sama saja tidak ada yang spesial, yang ada hanya gurauan dengan rekan sesama magang untuk mencairkan suasana. Bagaimana tidak? Setiap hari kami di suruh menunggu info dari guru pengajar asli untuk jadwal mengajar. Satu minggu berjalan tapi tetap saja aku tidak mendapatkan info apapun dari guru. Terus-menerus aku tetap menunggu info.
            Hari Di Mana Semua Berubah...
            Setelah selang waktu satu minggu aku mendapatkan kabar bahwa sekolah tersebut  juga kedatangan guru magang dari kampus lain, dalam benakku apakah benar kata teman-temanku bahwa atar kampus akan diperlakukan secara berbeda. Apalagi, saingan kami merupakan perguruan tinggi negeri. Namun, aku menepis semua anggapan yang diutarakan oleh rekan-rekanku.
            Saat itu jatuh di hari senin hari dimana aku merasakan sesuatu yang berbeda baik dari segi kehidupan maupun segi perasaan. Sosok wanita ini sangat menarik perhatian aura yang ia pancarkan sangat mengesankan bahwa wanita ini orang yang sangat berpengaruh. Aku terus memandanginya, hari itupun benar-benar membuat hari yang dimana membosankan. Berubah menjadi hari sangat mengesankan. Saat itu setiap guru magang memperkenalkan diri masing-masing. Aku benar-benar menunggu saat ini, besar sekali keinginku untuk tahu siapa nama wanita ini
            Waktu pun menjawab tiba saat dia akan memperkenalkan diri. Aku sangat inisatif dalam mendengarkan namanya. Ketika dia berdiri sudah sangat terlihat sekali bahwa wanita ini sangat beribawa walaupun dengan muka malu-malunya. Tetap saja dia tidak akan bisa menutupi aura menarik yang begitu besar. Caranya berpakaian sangat mengagumkan rapi bersih bahkan wangi lebih dari teman-teman perempuannya. Sungguh wanita proposinal.
            Namanya Chintya Prabawati, sungguh cantik namanya sangat cocok dengan orangnya yang sangat cantik. Cara ia bicara itu membuat orang yang diajak bicara sangat betah untuk ngobrol lama-lama dengan ia. Tatap matanya yang sangat tajam membuat siapa pun yang melihat sangat terpesona. Aku tidak peduli kalian bakal komen lebay atau semacamnya tapi inilah yang aku rasakan.
            Perkenalan usai, namun tidak bagiku yang ada bahkan malah membuatku semakin penasaran dengan apa yang ada dalam perasaanku ini terhadap ia. Hari itu, aku hanya cukup memandanginya saja selagi memperhatikan bagaimana dia. Entah aku akan terkesan seperti orang gila, karena saat itu memang aku cukup gila untuk merasaka perasaan yang benar-benar berbeda terhadap ia.
            Sampai tiba dimana saatnya untuk pulang karena waktu mengajar di sekolah sudah usai. Namun, hari itu aku tidak mau menyianyiakan dengan begitu saja. Aku mencari tahu dia pada sebuah aplikasi instagram. Namun, apa daya ternyata aku menemui jalan buntu. Hasil yang aku dapatkan pada hari pertama benar-benar nihil. Sesampainya di kos yang ada dalam benakku hanya ia, aku benar-benar menunggu esok hari. Sebegitunya aku ingin bertemu dengannya.
            Keberutungan...
            Hari esok pun datang juga, aku sangat bersemangat untuk berangkat sampai lupa kalau aku berangat terlalu pagi sesampainya di sekolah aku duduk sendirian. Belum ada rekan-rekanku yang datang. Sambil menunggu aku sesalu memandangi kursi yang ia duduki. Bahkan aku tidak melepasnya dari pandanganku. Cukup lama aku menunggu. Siapa sangka aku kira yang datang ialah rekanku, dan ternyata bukan. Kalian tahu siapa tahu yang datang? Iya sangat tepat. Dia lah yang datang dan di saat itu pula aku mengenal wangi yang ia kenakan. Dalam benakku sungguuh benar-benar beruntung tidak sia-sia aku berangkat pagi untuk ketemu dia, dan Allah langsung menjawabnya.
            Pada hari itu, ia masih belum menyadari kalau aku selalu memperhatikannya. Namun, bagiku tidak mengapa, aku menguatkan hati untuk ingin tahu dia jauh lebih banyak. Hanya saja hari itu masih sama-sama aku tidak bisa berbuat apa-apa aku tidak memiliki keberanian untuk berkenalan secara langsung.
            Akhirnya aku memilih menghabiskan waktu itu dengan bermain LUDO permainan dadu dimana yang bisa di ikuti oleh 6 orang hanya saja saat itu aku memilih untuk mengajak 4 orang saja. Sambil bermain aku memiliki ide dimana yang kalah harus mau menerima tantangan. Dimana yang kalah harus berkenalan dengan perempuan bagi laki-laki dan cowok bagi perempuan. Siapa sangka rekan satu timku mau menerima tantangan itu, yang ada di pikiranku aku harus mengalah untuk bisa berkenalan dengan dia.
            Benar-benar sangat beruntung aku benar kalah dalam permainan itu. Namun, kalian tahu apa yang terjadi. Keberuntungaku hilang ketika dia ternyata pergi untuk mengajar. Aku jadi tidak bersemangat untuk berkenalan, tapi aku harus tetap kenalan agar tetap tidak terlihat kalau akau sengaja mengalah dalam permainan untuk dapat berkenalan dengan dia.
            Hari kedua berakhir dengan kehabisan keberuntungan...
            Namun, aku tetap berdoa agar bertemua dengan dia lagi pada besok pagi. Benar saja esok pagi ternyata ada sebuah grup dimana ada anggota semua guru magang di sekolah itu. Aku benar-benar gembira aku langsung mencari tahu mana kontak dia mana kontak dia, benar saja aku mendapatkan kontak dia. Namun, aku tidak berani chat secara langsung. Aku hanya membuat rusuh di grup agar bisa membuat dia membalas. Awalnya aku berpikir takut kalau dia akan gak suka sama aku karena sikapku yang menjengkelkan dengan membuat rusuh di grup.  
            Perkenalan Yang Serius...
Mohon maaf cerita ini akan terbit lagi, hanya saja untuk sekarang penulis sedang banyak tugas. Semoga pembaca suka. Terutama sang wanita “Chintya Prabawati”.

Kamis, 20 September 2018

Naskah Drama Radio


Naskah Radio
Oleh Muhammad Wahyu Wibowo
15410196/4E
Cerita Buka Puasa Jengkel
1.      Moderator       :  Kejadian ini dimulai ketika bulan puasa, Buki, Tuki dan Ruki                                 merupakan kakak beradik dalam satu keluarga.  

2.      Buki                : Tuki, besok udah mulai puasa, kamu nanti jangan lupa bangun pagi                         ya untuk sahur, jangan lupa, Ruki kasih tau juga.

3.      Tuki                 : Baik kak.

4.      Tuki                 : Ruki, kamu jangan di kamar melulu dong, tadi saya di kasih tau kakak                   bahwa besok udah mulai puasa nanti kita di suruh bangun pagi untuk                      sahur. Ruki! kamu dengar ndak sih!

5.      Ruki                : Hah! iya iya kak, saya denger kok.

6.      Tuki                 : Yasudah kalau gitu, jangan tidur malam-malam nanti kamu ndak bisa                      bangun. Kamu kan tidurnya kayak kebo! Hahaha.

7.      Ruki                : Ih! kakak kalau privasi kan ndak usah dikatakan.

8.      Tuki                 : Iya deh iya. Anak cewek kok tidur kayak kebo. Hahahah.

9.      Ruki                : Kakak!


Lagu Ramadhan

10.  Moderator       : Sahur, sahur, sahur, sahur.

11.  Buki                : Oh iya, hari ini hari pertama puasa... Hoam. Tuki! Tuki! Ayo bangun                       kita sahur besok harus puasa, ini hari pertama puasa loh.

12.  Tuki                 : Hoam, iya kak sebentar lagi saya keluar untuk sahur.

13.  Buki                : Ya sudah kakak tinggal dulu, jangan lupa bangunin adik kamu Ruki.

14.  Tuki                 : Baik kak!

15.  Tuki                 : Ruki, Ruki, Ruki! Ayo bangun kita sahur sudah ditungguin kakak                           tuh? Nih anak susah banget ya bangunnya.

16.  Buki                : Ruki, belum bangun juga Tuk?

17.  Tuki                 : Belum nih kak, susah banget banguninnya. Yasudahlah kak kita sahur                    aja sediri, biarin aja dia. Suruh besok aja puasannya!

18.  Buki                : Ndak boleh gitu Tuk. Ruki harus belajar puasa mulai hari ini. Kan ibu                      pernah bilang kalo belajar jangan ditunda-tunda.

19.  Tuki                 : Hahaha, kakak yang sholeh pantas tuk menjadi panutan. Kakak yang                     sholeh memang semangat menanamkan nilai-nila agama ke adik sejak                      kecil.

20.  Buki                : Hahaha, kamu ini bisa aja. Maksud saya bukan itu. kalau Tuki hari ini                     puasa kan dia nanti siang tidak makan, terus minta uang jajan.                           Hahaha.

21.  Tuki                 : Ternyata kakak hanya menghindari dimintain uang sama adik-                               adiknya.

22.  Buki                : Hahaha sudah-sudah, biar kakak saja yang bangunin adikmu nanti                           keburu imsak. Cara bangunin adik kamu itu harus pakai ini nanti juga                       dia bangun.

23.  Tuki                 : Pakai jengkol ya kak?

24.  Buki                : Iya, kan adik kamu suka banget sama jengkol.

25.  Ruki                : Hem, baunya enak sekali. Aduh Ruki kejedot! Kakak kenapa tidak                         nolongin Ruki sih. Udah gitu malah diketawain pula.

26.  Buki                : Hahaha, kamu itu dibanguninnya susah sekali makanya kakak                                 bangunin pakai makanan kesukaan kamu. Tapi kakak ndak tau kalau                kamu sampai jatuh kejedot gitu. Lagian kamu bangun aja susah.                                   Hahaha.

27.  Ruki                : Iya deh iya Ruki bangun, Ruki mau cuci muka dulu nanti Ruki                               menyusul ke meja makan.

28.  Buki                : Tuh kan adik kamu bangun, itu juga kakak banguninnya dengan cara                      tradisional.

29.  Tuki                 : Iya kak kapan-kapan kalau Tuki mau bangunin Ruki pakai semur                             jengkol aja deh.

30.  Buki                : Itu juga kalau kakak masak semur jengkol kalau ndak kan kamu ndak                     bisa bangunin Ruki. Hahaha.

31.  Tuki                 : Ah, kakak.

32.  Ruki                : Ada apa ini kok sebut-sebut nama Ruki sih?

33.  Buki dan Tuki : Hahah tidak ada apa-apa.

34.  Ruki                : Kakak mana semur jengkolnya Ruki sudah lapar nih!

35.  Buki                : Iya-iya ini makan, biar puasa kamu kuat nanti.

Suara adzan subuh
36.  Moderator       : Setelah usai makan sahur Ruki pun tidur kembali, sampai siang hari...

37.  Tara                 : Ruki, main yuk!

38.  Ruki                : Mau main dimana, aduh, saya sedang puasa nih!

39.  Tara                 : Main di lapangan dekat mushola yuk.

40.  Ruki                : Hah? main di lapangan dekat mushola? Capek ah nanti, saya ndak ikut                   ah!

41.  Tara                 : Yaelah Ruk, saya juga lagi puasa. Udah ayok main!

42.  Tiri                   : Iya Ruk, kan kita teman masak ndak bisa main bareng sih!

43.  Ruk                 : Iya deh kalo gitu! yang sampai terakhir didatangin mak lampir!

44.  Tara                 : Hore!

45.  Tiri                   : Ah, kalian curang lari duluan.

46.  Moderator       : Akhirnya...

47.  Tara                 : Kena kamu Ruk, Ye kita menang!

48.  Tiri                   : Ya Ruki ndak seru dari tadi kalah terus?

49.  Tara                 : Seru juga ya walaupun keringettan kayak gini!

50.  Tiri                   : Eh! sih Ruki mana?

51.  Tara                 : Tadi katanya ketempat wudhu?

52.  Tiri                   : Yang bener? Kita cek yuk ke sana!

53.  Ruki                : Ah! Segar sekali!

54.  Tara dan Tiri    : Ruki batal puasannya!

55.  Tara                 : Hahaha, ketahuaan ya batalnya!

56.  Ruki                : Saya ndak tau kalau tidak boleh minum air kran juga...

57.  Tiri                   : Ih! Ruki pura-pura deh!

58.  Ruki                : Saya memang mengira selama bukan makanan atau minuman yang di                     masak, maka boleh di konsumsi saat puasa. Entah! dari mana                                    datangnya logika aneh seperti ini...

59.  Buki                : Ruki udah adzan waktunya buka puasa!

60.  Ruki                : Dari ini saya belajar bawasannya minum air yang belum di masak               membuat saya sakit perut hingga bolak-balik ke kamar mandi. Hingga                      tidak nafsu makan.

Suara adzan magrib

61.  Moderator       : Setelah usai berbuka puasa pada hari pertama, Ruki kapok untuk                           minum sembarangan dan tidak mau main terlalu berlebihan agar                              puasannya tidak batal lagi. Ruki di ajak kakak-kakanya untuk                          berkunjung kerumah nenek di kampung.

62.  Ruki                : Lagi ngapain mbah!

63.  Simbah            : Lagi cari daun pisang Ruk!

64.  Ruki                : Daun pisang buat apa mbah!

65.  Simbah            : Buat bungkus lontong!

66.  Ruki                : Lontong buat apa mbah?

67.  Simbah            : Buat nanti di makan sama opor!

68.  Ruki                : Oh! masih nanti nah sekarang lagi apa mbah?

69.  Simbah            : Cari daun pisang Ruk!

70.  Ruki                : Buat apa mbah?

71.  Simbah            : Buat bungkus lontong! Kan tadi udah tak kasih tau Ruk!

72.  Ruki                : Lontong buat apa mbah?

73.  Simbah            : Di makan sama opor Ruk, masak buat ganjel lawang!

74.  Ruki                : Oh, gitu ya mbah!

75.  Simbah            : Iya, sudah sana pergi, jangan ganggu saya!!

76.  Ruki                : Kenapa mbah?

77.  Simbah            : Kan saya banyak gawean ini...!

78.  Ruki                : Gawean apa mbah!

79.  Simbah            : Masyaallah, cari daun pisang Ruk!

80.  Ruki                : Daun pisang buat apa mbah?

81.  Simbah            : Di buat lontong, rak krunggu toh kuwe!

82.  Ruki                : Simbah bicara sama siapa?

83.  Simbah            : Astaugfirullah, sama kamu Ruk!

84.  Ruki                : Lah kalau sama saya kenapa simbah teriak-teriak? Saya kan disini                saja mbah?

85.  Simbah            : Mripatmu merem toh...! Soale kuwe bodoh...orak delok toh nek saya                       ikih lagi akeh gawean!

86.  Ruki                : Kerjaan apa mbah!

87.  Simbah            : Dengkulmu anjlok toh Ruk! Lagi cari daun pisang!!

88.  Ruki                : Daun pisang buat apa mbah...?

89.  Simbah            : Mulutmu ambrol kui... di buat bugkus lontong, lontongnya ya                                dimakan Ruk...!

90.  Ruki                : Kan neng omah ono sego mbah kog mangan lontong campur                                  godhong gedhang mbah?

91.  Simbah            : Putuku seng ayu ireng tunteng kyok areng, kuwe dolanno wae seng                        adoh. Nek perlu ojo balik sekalian sak lawase! Engko budregke                                      simbah kumat maneh!

92.  Ruki                : Kenapa budreg mbah? Sebenarnya simbah ini cari daun pisang apa                          budreg sih? Budreg itu apa sih mbah? bisa di buat bungkus lontong                           toh?

93.  Simbah            :  Ya ampun ndok-ndok! Kok goblok tenan kuwe toh ndok-ndok!!                               kenthir!!


94.  Ruki                : Kenthir! simbah stres ya?

95.  Simbah            : Iya simbah stres! pusing kepalsaya ada kamu nganggu saya nyambut                      gawe!

96.  Ruki                : Kalau nyambut gawe cari daun pisang membuat pusing..., kenapa               simbah masih cari daun pisang!

97.  Simbah            : Wis, wis. Orak usah kakean cangkem! Saiki minggato. Muliho wae                          kuwe!

98.  Ruki                : Iya saya pulang saja, simbah tidak pulang sekalian?

99.  Simbah            : Wedus, takok maneh! Cari daun pisang!

100.   Ruki                 : Daun pisang buat apa mbah?

101.  Simbah           : Gawe jejeli lambemu!!

102. Ruki                : Lah tadi kataya ingin dibuat bungkung lontong mbah?

103. Moderator       : Simbah langsung pingsan!


Don’t cry.

Tamat