Menanggapi
esai yang Bapak tulis mengenai “Membangun Kota dengan Seni”. Apakah memang
diperlukan untuk membangun kota dengan seni? Bukankah Pemerintah mengusungkan
rencana pembangunan infrastruktur itu juga ditujukan untuk kota itu sendiri dan
bisa di anggap juga memperbarui filosofis kota tanpa meninggalkan filosofis
kota yang lama. Adupula, yang Bapak tulis mengenai bahwa para seniman bisa jadi
tumpuan utama untuk mengedepankan nilai kultural dan filosofis kota. Lalu upaya
apa saja yang sudah di berikan oleh seniman-seniman di kota tersebut untuk
mempertahankan nilai filosifis dan kultural kota itu sendiri? Seperti halnya,
taruhlah festival FKY(Festival Kesenian Yogyakarta), lalu Dieng Culture
Festival yang sudah menjadi agenda rutin tahunan Festival Kesenian. Belum lagi
seniman-seniman muda ataupun kawakan yang kebanyakan diantara mereka masih
dihinggapi perasaan Apologia? Oleh karena itu, upaya apa saja yang bisa menjadi
pelopor untuk meghilangkan perasaan tersebut dan membuatnya menjadi penentu
perubahan bagi seniman-seniman yang masih memiliki perasaan Apologia.
Akan
tetapi, di lain hal Saya juga setuju untuk jika para seniman-seniman muda dan
kawakan bisa berkolaborasi untuk merealisasikan untuk membuat acara tahunan
yang ditujukan untuk mengenali kultural dan filosofis Kota Kendal seperti
halnya Kendal Expo 2016 yang lalu.
Muhammad
Wahyu Wibowo (3E) KOMENTAR P.M
Tidak ada komentar:
Posting Komentar