Rabu, 21 Desember 2016

MENANGGAPI ESAI MEMBANGUN KOTA DENGAN SENI



Menanggapi esai yang Bapak tulis mengenai “Membangun Kota dengan Seni”. Apakah memang diperlukan untuk membangun kota dengan seni? Bukankah Pemerintah mengusungkan rencana pembangunan infrastruktur itu juga ditujukan untuk kota itu sendiri dan bisa di anggap juga memperbarui filosofis kota tanpa meninggalkan filosofis kota yang lama. Adupula, yang Bapak tulis mengenai bahwa para seniman bisa jadi tumpuan utama untuk mengedepankan nilai kultural dan filosofis kota. Lalu upaya apa saja yang sudah di berikan oleh seniman-seniman di kota tersebut untuk mempertahankan nilai filosifis dan kultural kota itu sendiri? Seperti halnya, taruhlah festival FKY(Festival Kesenian Yogyakarta), lalu Dieng Culture Festival yang sudah menjadi agenda rutin tahunan Festival Kesenian. Belum lagi seniman-seniman muda ataupun kawakan yang kebanyakan diantara mereka masih dihinggapi perasaan Apologia? Oleh karena itu, upaya apa saja yang bisa menjadi pelopor untuk meghilangkan perasaan tersebut dan membuatnya menjadi penentu perubahan bagi seniman-seniman yang masih memiliki perasaan Apologia.
Akan tetapi, di lain hal Saya juga setuju untuk jika para seniman-seniman muda dan kawakan bisa berkolaborasi untuk merealisasikan untuk membuat acara tahunan yang ditujukan untuk mengenali kultural dan filosofis Kota Kendal seperti halnya Kendal Expo 2016 yang lalu.

Muhammad Wahyu Wibowo (3E)KOMENTAR P.M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar