Rabu, 21 Desember 2016

MENANGGAPI ESAI MENIMBANG KETIADAAN UN

                                                                                    Oleh Muhammad Wahyu Wibowo

        Sedikit menaggapi tulisan opini berjudul Menimbang (Ketiadaan) Ujian Nasional, memang benar adanya wacana bahwasannya Ujian Nasional akan dihapuskan pada periode 2016 untuk seluruh wilayah yang ada di Indonesia. Akan tetapi masih belum ada ketetapan dari presiden. Jika melihat kedepan bawasannya yang akan di ujikan adalah seluruh materi yang diajarkan di sekolah. Bukan malah mengurangi masalah yang mengira Ujian Nasional manjadi momok bagi para siswa untuk mendapatkan kelulusan. Akan tetapi, melainkan justru malah menambah begitu banyak masalah, bukan hanya dari segi materi yang harus dipelajari. Melainkan justru akan membuat siswa semakin kesuliatan untuk menghadapi Ujian Nasional.

            Jika menengok kebelakang bawasannya para siswa yang pada tahuan sebelum-sebelumnya saja sudah kesuliatan untuk belajar empat materi utama yang akan di ujian dalam Ujian Nasional apalagi dengan sekarang yang malah membuat wacana akan dihapuskan dan menjadikan semua materi pelajaran yang ada menjadi materi ujian nasional. Malahan akan menjadikan siswa jauh lebih tertekan dan bisa-bisa para siswa pesimis dengan mengikuti ujian nasional. Siswa yang seharusnya fokus terhadap empat materi kini dituntut untuk bersiap menghadapi bengitu banyak materi yang ia harus pikirkan, dalami, dan hafalkan. Akan membuat para sisiwa semakin stres dengan materi sekolah saja.

            Tidak banyak memang tidak sependapat dengan adanya wacana tersebut terlebih lagi bawasannya Ujian Nasional dihapuskan hanya karena alasan untuk mengurai pembengkakkan dana ketika adanya Ujian Nasional yang selalu dignakan untuk membayar Polisi dan TNI untuk menjaga soal Ujian Nasional agar tidak bocor dan tersebar sebelum saatnya diujikan kemudian menbayar pengawasan dari perguruan tinggi untuk memberikan uang pesangon guna telah ikut mengawasi jalannya Ujian Nasional. Alasan tersebut saya kira tidaklah tepat. Bukankah memang seperti itu adalah kewajiban bagi negara. Mengapa harus dipermasalahkan? Kemudian menjadikan Ujian Nasional bagian dari sasaran semata untuk di hilangkan. Tidakkah bisa saja itu hanya guna untuk politik belaka atau mungkin bisa saja hanya untuk memberikan rasa tenang kepada siswa agar tidak takut untuk menghadapi Ujian Nasional.

            Namun, adapula orang-orang yang setuju dengan bawasannya Ujian Nasional dihapuskan yang kemudian digantikan dangan ujian sekolah, yang bertumpu di sekolah saja kemudian menunjuk kepada sekolah sepenuhnya untuk memberikan hak untuk lulus atau tidak. Banyak yang sangat setuju dengan rencana tersebut, dipikirnya siswa tidak harus bersusah payah untuk melakukan belajar semalam hanya untuk menghadapi Ujian Nasional seperti sebelum-sebelumnya. Dengan seperti itu, siapapun yang menghadapi ujian sekolah tidak setegang seperti akan menghadapi Ujian Nasional. Diharapkan pemerintah secepatnya untuk memberikan keputusan yang pasti dan resmi guna menerapkan di Ujian Akhir tahun 2016, dengan penuh harapan bahwa akan terealisasi dengan alasan memikirkan masa denpan bukan kepentingan individu semata.

            Akan tetapi, banyak pula orang yang menentang dengan adanya wacana bawasannya Ujian Nasional akan dihapuskan kemudian digantikan dengan ujian sekolah yang hanya menunjuk sekolah untuk menjadi penentu kelulusan hanya guna melanjutkan pembelajaran ke jenjang lebih tinggi tanpa susah payah. Tidak semudah itu, semakin tinggi sekolah dan semakin tinggi pembelajaran apalagi dengan berkembangnnya zaman seperti sekarang ini. Pemerintah seharusnya lebih bijak dalam menyikapi hal seperti ini dan memikirkan matang-matang bawasannya Ujian Nasional akan dihapuskan. Gimana kalau Ujian Nasional benar-benar dihapuskan? Apakah akan menjamin kemashuran siswa di masa mendatang atau bahkan sebaliknya malah akan menjerumuskan penerus bangsa pada zona yang tanpa ujung kepastian.


            Harapannya bawasannya pemerintah tidak hanya akan memutuskan begitu mudah hanya dengan alasan-alasan yang kurang di terima, setidaknya berpikir lebih matang dengan mengedepankan masa depan penerus bangsa yang ideal bukan hanya dari segi kemampuan eksternal akan tetapi melalui internal pemikiran pula. Jika kita mengedapankan hal semacam itu, tanpa ada kata lain yang mengikuti atau bahkan alasan lain yang mengikuti dari belakang maka bisa saja kita akan mencetak generasi-generasi ideal yang sesuai. Lebih unggul dalam bersaing di masyarakat asean pada saat ini. Jika menengok ke negara lain seperti tiongkok. Bawasannya ia hanya menerapkan sistem sekolah enam jam sehari dan dua jam praktik itu pula hanya satu makul dala sehari. Akhirnya ia juga bisa mencetak generasi yang ideal. Kenapa kita tidak sedikit mencontoh dan menerapkan hal yang semacam itu guna memperbaiki reputasi belajar siswa. Itu juga bisa dipastikan akan berhasil karena sudah teruji di negara maju. Semoga pemerintah sedikit menimbang kembali bawasannya Ujian Nasional akan dipuskan kemudian digantikan dengan Ujian Sekolah yang pastinya belum akan berhasil kedepannya. Lebih baik memakai metode yang sudah ada dengan catatan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sebelumnya terjadi kemudian dijadikan evaluasi kedepannya agar menjadi lebih baik dan tertata dengan struktural tanpa adanya keputus asaan seperti sekarang ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar