Rabu, 21 Desember 2016

AWALAN MENJADIKAN PEMBEDA
Oleh Muhammad Wahyu Wibowo
Esai yang dutulis oleh Unggul Putro Sambodo pada tanggal 13 Oktober 2016 mengenai pementasan “Jaka Tarub yang Terasa Baru dan Menyegarkan” hanya menulis ulang mengenai pementasan yang diperankan oleh aktro dan aktris mengenai cerita Jaka Tarub oleh Teater Gema dari Universitas PGRI Semarang yang dipentaskan bertempat di Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang Selasa, 04 Oktober 2016 lalu.
Ia luput dalam pandangan penonton yang menyaksikan bukan hanya dari kalangan Mahasiswa saja. Akan tetapi, ada juga dari kalangan siswa maupun siswi SMK-SMA Sederajat yang hadir dalam barisan penonton. Adapula, penikmat sejarah yang hadir dalam pementasan. Ia juga hanya menceritakan urutan-urutan cerita yang dipentaskan, bukankah masih banyak yang perlu diperhatikan melainkan hanya menulis ulang alur cerita atau bahkan sesuai apa yang diperankan seperti kelemahan para pemain, bagaimana respon penoton terhadap cerita yang diperankan dan banyak lagi yang lain.
            Bagi kalangan pencinta seni peran seperti drama, teater, dan lenong. Tampilan awal yang gelap gulita dan sunyi adalah hal yang biasa dan sering terjadi di semua pementasan drama, teater, dan lenong. Hal itu adalah salah satu cara sutradara dalam memberikan kesan untuk penonton dan memperjelas sketsa aktor dan aktris saat bermain peran. Adapula, tidak semua penoton dibuat kaget dengan awalan yang gelap gulita, kebanyakan pasti anak-anak zaman sekarang sudah paham dengan hal yang seperti itu, apalagi yang menyaksikan berasal dari kalangan Mahasiswa dan pelajar yang pasti sering pergi kebioskop disana juga sama diawali dengan kegelapan yang begitu pekat dan sunyi.
            Sebuah pemilihan awalan yang menarik dalam pementasan Jaka Tarub memang sedikit berhasil merebut perhatian penonton yang sudah terbiasa dengan kisah Jaka Tarub yang biasanya menunjukkan sang Jaka terlebih dahulu. Penonton dibuat bertanya-tanya tentang siapakah pria tua dan anak perempuan cantik nan manis itu, apapula hubungannya dengan kisah Jaka Tarub. Namun, berbeda dengan penikmat sejarawan yang dipentaskan melalui seni peran. Beliau pasti tau siapa yang sedang tidur sambil menggigau dan berteriak-teriak saat malam purnama. Karena hal seperti itu sudah sering sekali perankan ditelevisi. Pasti para penikmat sejarawan sudah bisa menebak dengan hal seperti itu bahkan adapula yang bisa menebak bagaimana cerita akhir dalam pementasan selain ”Sutradara”.
Sedikit sependapat dengan halnya apa yang ditulis Unggul adanya selingan yang tidak ada kaitannya dengan cerita Jaka Tarub itu juga merupakan hal yang menarik untuk diperhatikan karena selingan tersebut dibuat sebagai selingan atau penyambung cerita agar tidak terlihat monoton atau biasa sering disebut sebagai iklan untuk menyambungkan cerita saat Jaka Tarub masih muda dan sudah tua. Begitu menarik perhatian hingga bisa memecahkan suasana yang awalnya sunyi dibuat lucu seketika dengan hadirnya dua orang pemuda yang hadir untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa.
Hingga akhir cerita, tidak ada perbedaan yang cukup menonjol antara kisah Jaka Tarub yang selama ini kita kenal dengan yang ditunjukkan oleh para aktris dan aktor. Hanya saja, rasa pembaruan masih terasa pada bagian akhir. Di mana terjadi pengulangan adegan saat sang pria tua terbangun. Inilah cara yang baru dan memberikan kesan bagus utnuk pembukaan sebuah pementasan cerita yang kadang masih identik dengan prolog, tentang bagaimana sang Jaka Tarub tua yang memimpikan kisah mudanya dahulu.
Akan tetapi dalam esai yang di tulis oleh unggul juga luput dalam memperhatikan seperti bagaimana peran sang aktris ataupun aktor dalam memerankan peran masih-masing secara totalitas dan mendalami, contoh saja seperti halnya jalannya seorang bidadari yaitu nawang wulan istri dari jaka tarub saat Ia ingin pergi kesungai untuk mencuci baju dan mengambil air. Sang aktris tampak sangat tidak mendalami berperan sebagai seorang bidadari ia berjalan seperti seorang manusia biasa. Seharusnya bukankah Ia harus bisa memperkirakan bagaimana prilaku seorang bidadari dan bagaimana cara berjalannya. Ia juga luput dalam memperhatikan backsound saat penampilan. Bukankah itu juga merupakan hal yang penting untuk diperbincangkan, saat pementasan Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari ketika bidadari mandi di sungai kenapa tidak dikasih suara gemericik air atau air terjun untuk mengambarkan bawasannya itu sedang mandi di air terjun. Adapula, suara jangkrik yang berbunyi saat malam hari untuk mengambarkan saat jaka tarub mengigau pada malam purnama. 

Melalui peran sang aktris, sutradara bisa membuat kenangan atau pengingat kembali tentang adanya sejarah besar yang terjadi pada zaman dahulu. Itu pula, yang membuat penonton akan selalu teringat dengan adanya sejarah besar yang pernah terjadi di masa lampau. Bagi, para sejarawan atau penikmat sejarah melalu seni peran, sejarah merupakan kesepakatan pasti yang harus diperankan, dikenang, dan diwariskan untuk mengingat apa saja bukti-bukti yang pernah terjadi dan benar adanya bukan hanya bualan ataupun opini belaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar