AWALAN MENJADIKAN PEMBEDA
Oleh Muhammad Wahyu Wibowo
Esai
yang dutulis oleh Unggul Putro Sambodo pada tanggal 13 Oktober 2016 mengenai
pementasan “Jaka Tarub yang Terasa Baru dan Menyegarkan” hanya menulis ulang
mengenai pementasan yang diperankan oleh aktro dan aktris mengenai cerita Jaka
Tarub oleh Teater Gema dari Universitas PGRI Semarang yang dipentaskan
bertempat di Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang Selasa, 04 Oktober
2016 lalu.
Ia
luput dalam pandangan penonton yang menyaksikan bukan hanya dari kalangan
Mahasiswa saja. Akan tetapi, ada juga dari kalangan siswa maupun siswi SMK-SMA
Sederajat yang hadir dalam barisan penonton. Adapula, penikmat sejarah yang
hadir dalam pementasan. Ia juga hanya menceritakan urutan-urutan cerita yang dipentaskan,
bukankah masih banyak yang perlu diperhatikan melainkan hanya menulis ulang
alur cerita atau bahkan sesuai apa yang diperankan seperti kelemahan para
pemain, bagaimana respon penoton terhadap cerita yang diperankan dan banyak
lagi yang lain.
Bagi kalangan pencinta seni peran seperti drama, teater,
dan lenong. Tampilan awal yang gelap gulita dan sunyi adalah hal yang biasa dan
sering terjadi di semua pementasan drama, teater, dan lenong. Hal itu adalah
salah satu cara sutradara dalam memberikan kesan untuk penonton dan memperjelas
sketsa aktor dan aktris saat bermain peran. Adapula, tidak semua penoton dibuat
kaget dengan awalan yang gelap gulita, kebanyakan pasti anak-anak zaman
sekarang sudah paham dengan hal yang seperti itu, apalagi yang menyaksikan
berasal dari kalangan Mahasiswa dan pelajar yang pasti sering pergi kebioskop
disana juga sama diawali dengan kegelapan yang begitu pekat dan sunyi.
Sebuah pemilihan awalan yang menarik
dalam pementasan Jaka Tarub memang sedikit berhasil merebut perhatian penonton
yang sudah terbiasa dengan kisah Jaka Tarub yang biasanya menunjukkan sang Jaka
terlebih dahulu. Penonton dibuat bertanya-tanya tentang siapakah pria tua dan
anak perempuan cantik nan manis itu, apapula hubungannya dengan kisah Jaka Tarub.
Namun, berbeda dengan penikmat sejarawan yang dipentaskan melalui seni peran.
Beliau pasti tau siapa yang sedang tidur sambil menggigau dan berteriak-teriak
saat malam purnama. Karena hal seperti itu sudah sering sekali perankan
ditelevisi. Pasti para penikmat sejarawan sudah bisa menebak dengan hal seperti
itu bahkan adapula yang bisa menebak bagaimana cerita akhir dalam pementasan
selain ”Sutradara”.
Sedikit
sependapat dengan halnya apa yang ditulis Unggul adanya selingan yang tidak ada
kaitannya dengan cerita Jaka Tarub itu juga merupakan hal yang menarik untuk
diperhatikan karena selingan tersebut dibuat sebagai selingan atau penyambung
cerita agar tidak terlihat monoton atau biasa sering disebut sebagai iklan
untuk menyambungkan cerita saat Jaka Tarub masih muda dan sudah tua. Begitu
menarik perhatian hingga bisa memecahkan suasana yang awalnya sunyi dibuat lucu
seketika dengan hadirnya dua orang pemuda yang hadir untuk mencalonkan diri
sebagai kepala desa.
Hingga
akhir cerita, tidak ada perbedaan yang cukup menonjol antara kisah Jaka Tarub
yang selama ini kita kenal dengan yang ditunjukkan oleh para aktris dan aktor.
Hanya saja, rasa pembaruan masih terasa pada bagian akhir. Di mana terjadi
pengulangan adegan saat sang pria tua terbangun. Inilah cara yang baru dan
memberikan kesan bagus utnuk pembukaan sebuah pementasan cerita yang kadang
masih identik dengan prolog, tentang bagaimana sang Jaka Tarub tua yang
memimpikan kisah mudanya dahulu.
Akan tetapi dalam esai yang di tulis oleh unggul juga luput dalam
memperhatikan seperti bagaimana peran sang aktris ataupun aktor dalam
memerankan peran masih-masing secara totalitas dan mendalami, contoh saja
seperti halnya jalannya seorang bidadari yaitu nawang wulan istri dari jaka
tarub saat Ia ingin pergi kesungai untuk mencuci baju dan mengambil air. Sang
aktris tampak sangat tidak mendalami berperan sebagai seorang bidadari ia
berjalan seperti seorang manusia biasa. Seharusnya bukankah Ia harus bisa
memperkirakan bagaimana prilaku seorang bidadari dan bagaimana cara
berjalannya. Ia juga luput dalam memperhatikan backsound saat penampilan.
Bukankah itu juga merupakan hal yang penting untuk diperbincangkan, saat
pementasan Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari ketika bidadari mandi di sungai kenapa
tidak dikasih suara gemericik air atau air terjun untuk mengambarkan bawasannya
itu sedang mandi di air terjun. Adapula, suara jangkrik yang berbunyi saat
malam hari untuk mengambarkan saat jaka tarub mengigau pada malam purnama.
Melalui peran sang aktris, sutradara bisa membuat kenangan atau
pengingat kembali tentang adanya sejarah besar yang terjadi pada zaman dahulu.
Itu pula, yang membuat penonton akan selalu teringat dengan adanya sejarah
besar yang pernah terjadi di masa lampau. Bagi, para sejarawan atau penikmat
sejarah melalu seni peran, sejarah merupakan kesepakatan pasti yang harus
diperankan, dikenang, dan diwariskan untuk mengingat apa saja bukti-bukti yang
pernah terjadi dan benar adanya bukan hanya bualan ataupun opini belaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar