Opini mengenai “Kejujuran dan
Tata Kelola yang Baik”. Oleh Adi Ekopriyono yang terbit melalui Suara Merdeka
Sabtu, 24 September 2016 begitu menarik perhatian. Perlu waktu lama untuk
mengubah prilaku jujur atau kebiasaan orang di zaman moderen seperti sekarang
ini. Jika Presiden Jokowi menekankan kepada setiap orang untuk dapat menang
dalam persaingan di era globalisasi sangatlah sulit, walaupun diwujudkan dengan
unsur publik dan privat atau sering disebut public privat partnership.
Kenapa? Karena masih begitu banyak kekurangan pemerintah dalam pemerhatian
lapangan pekerjaan dalam dunia usaha untuk mendorong kemajuan seseorang dan
bangsa itu sendiri. Dalam konteks ini
seseorang yang memiliki bisnis yang besar dan maju akan cenderung berprilaku
menipu dan melakukan kebohongan.
Memang
benar berbagai referensi menyebutkan,
kejujuran dan pengendalian diri merupakan standar moral dalam etika keutamaan.
Jujur dalam arti tidak melakukan kebohongan, penipuan, dan pratik-praktik
bisnis tidak terpuji lain. Akan tetapi, itu mungkin memang berlaku bagi orang-orang
yang sadar. Sayangnya, standar moral tersebut sekarang menjadi barang langkah,
baik dalam dunia bisnis maupun penyelengaraan pemerintahan, jumlah orang jujur
dan mampu mengendalikan diri untuk tidak berprilaku tidak bermoral seperti
korupsi, menerima suap, dan melakukan penipuan makin sulit dicari. Pengaruh
budaya barat yang semakin tidak terbendung juga menjadi salah satu penyumbang
terbesar dalam berprilaku tidak bermoral dan menghargai sesama.
Karenannya
dalam bisnis tidak mengenal lawan atau teman abadi, karena yang abadi hanya
kepentingan diri sendiri. Untuk itu seharusnya pemerintah memikirkan bagaimana
memberikan lapangan perkerjaan untuk warga negara dahulu dalam hal ini nanti
akan timbul prilaku bermoral untuk dapat bersaing dalam era globalisasi seperti
sekarang ini.
Dalam konteks ini peran setiap personal untuk
memajukan tindak prilaku bermoral utama memang sudah sangat bagus seperti
mengadakan seminar dan membuat kegiatan yang mendukung terciptanya tindak
prilaku bermoral. Akan tetapi, cukupkah hanya dengan mengadakan seminar dan
kegiatan yang mendukung terciptanya prilaku bermoral? Dan lagi, seminar yang
diadakan hanya di kampus dan pesertanya juga Mahasiswa dan Mahasiswi, bagaimana
dengan mereka yang tidak mampu dan juga membutuhkan. Bukankah mereka juga
membutuhkan informasi dan cara bagaimana meningkatkan moral dalam menghadapi
dunia kerja. Kebanyakan orang memang mengadakan seminar dan sebagianya untuk
meningkatkan moral dalam dunia kerja. Akan tetapi lapangan perkerjaan itu
sendiri juga menjadi hambatan lalu bagaimana upaya pemerintah untuk menangani
hal ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar