MENULIS SURAT
Oleh Muhammad Wahyu Wibowo
Selamat malam juga dan salam kenal untuk Bapak yang
sangat sibuk dengan pelbagai urusannya yang sangat padat hingga tiada waktu
untuk bersapa salam dalam Penulisan Media Massa.
Hari
demi hari detik demi detik waktu pun terus berlalu, mungkin memang saya
melewatkan pelbagai informasi terbaru ataupun kegiatan yang sedang digandrungi
oleh anak-anak zaman sekarang. Namun, saya tidak melewatkan hari-demi hari
detik demi detikku dengan bermalas-malasan yang hanya melihat telepon genggam
dan memandangi pelbagai setatus orang yang mereka tulis dalam pelbagai aplikasi
yang hanya berisi curahan hati yang tidak begitu penting, walaupun banyak juga
yang menaruh informasi penting. Oleh karena itu saya mengisi kekosongan hari
demi hari detik demi detiku saya isi dengan pelbagai macam kegiatan seperti
membaca buku walapun tidak semua buku yang saya baca adalah materi
pembelajaran. Adapun buku yang lain yang saya baca seperti novel action
yang merupakan novel kesukaanku dan ada banyak novel yang lain. Adapula, koran
yang saya baca walapun tidak semua koran saya baca diantaranya Suara Merdeka
yang sering memberikan informasi terkini dari Jawa Tengah walaupun yang saya
cari hanya tentang perkembangan ekonomi dan sastra terbaru yang sedang
berkembang akan tetapi harganya relatif mahal hingga 5.500 perkoran. Adapula,
media massa lain yang saya baca Teribun Jateng disana saya juga membaca
menganai berita yang sedang hangat dibicarakan. Ya, memang terutama di sastra
tentunya? Salah satu informasi yang baru saya dapatkan saat sedang makan nasi
goreng dan sambil minum es teh malam ini Senin, 17 Oktober 2016 tepatnya. Dalam
opini yang ditulis dan dipublikasikan melalui koran Teribun Jateng oleh Bandung
Mawardi seorang Kritikus Sastra mengenai
“Memahami Padepokan”. Membuat aku tidak fokus kepada makananku akan tetapi
hanya fokus terhadap opini yang ia tulis begitu menarik.
Tak
apa jika Bapak tidak bisa hadir untuk bersapa salam dalam Penulisan Media Massa
kali ini. Dengan pelbagai kesibukan yang begitu menyita waktu hingga tak ada sedikitpun
ruang di hati kecuali hanya terisi dengan kemuliaan untuk mengembangkan sastra.
Ketidak berhadiran Bapak untuk bersapa salam dalam pertemuan kali ini tidak
menciutkan saya untuk hanya diam dan bahagia dengan kekosongan yang begitu
mencekam pikiran untuk tidak digunakan dalam mempertajam pemahaman. Tidak ada
kata lain yang bisa saya ucapkan untuk mewakili semua perjuangan Bapak yang
begitu gigih untuk tetap profesional dalam mengajar dan menghadiri pertemuan
para kage (pertemuan para sastrawan) yang sering aku sebut begitu. “Terima
kasih”. Hanya itu kalimat yang dapat saya sampaikan kepada semua perjuangan
Bapak dalam memajukan Sastra dan juga saya dalam pemahaman penulisan media
massa. Bisa dilihat dari surat yang Bapak berikan kepada saya secara personal
pada paragraf 3 kalimat pertama. Terlihat jelas jika Bapak masih sangat peduli
dengan saya walaupun dengan begitu banyak kesibukan yang menyita waktu.
Hanya
doa yang bisa saya panjatkan lalu dendangkan bahkan kumandangkan untuk
menyertai keberangkatan Bapak untuk menemui para kage yang ada di Badan Bahasa
Jakarta sana. Semoga pidato bapak dan
tafsiran Bapak yang Bapak lontarkan bisa membuat para kage yang lain untuk
tergugah kepala yang berisi otak untuk berpikir dada yang dibalut dading dan
dilindungi oleh tulang rusuk dan disana ada hati untuk diberikan pencerahan
akan masa depan sastra yang akan mendatang. Maaf, jika ada kata ataupun kalimat
saya yang tidak begitu berkenan dan kurang sopan karena hanya bermodalkan
pemahaman yang masih sedikit saya miliki kemudian saya terapkan dalam
berbahasa. Begitu jujur atau mungkin begitu benar Bapak dalam menuliskan
kalimat mengenai Mahasiswamu ini yang begitu pandai menutup-nutupi segala
kekurangan dan mengurang-ngurangi segala kelebihan. Mungkin ada pelbagai alasan
kenapa Mahasiswa-mahasiswamu ini bersikap begitu dingin hingga tak ada
sedikitpun ruang di hati keculai hanya berisi dengan dosa, dosa kecil dosa
besar hingga menumpuk melebihi sampah-sampah. Namun, tidak semua Mahasiswamu
ini begitu bersikap dingin seperti halnya kutub utara yang begitu dingin hingga
tak ada orang yang ingin tinggal disana. Ada juga, Mahasiswamu ini bersikap
diam dan dingin seperti orang mati namun ia paham akan semua kata atau bahkan
kalimat yang Bapak maksudkan. Oleh karena itu, mungkin ia menunjukkan dengan
bersikap diam dan dingin untuk tidak mencari perhatian atau bisa dibilang jaga
imet. Walaupun, tidak semua seperti itu tapi pasti dia ada.
Adapula
alasan tertentu yang membuat Mahasiswa-mahasiswamu ini begitu diam hingga tidak
mau berterus terang dalam berbicara, mengutarakan pendapat, ataupun unek-unek
yang berada pada kepala yang dibaluti dengan rambut dan ditutupi oleh kulit
yang didalamya terdapat otak yang berisi begitu banyak persoalan dan pertanyaan
yang ia pikirkan. Mungkin? Mereka mempunyai begitu banyak pikiran yang ada
didalam kepalanya namun tidak pernah berani berterus terang untuk
membicarakannya. Biasanya mereka berada dalam kaum minoritas atau kaum yang
pendiam dan memang tidak suka banyak bicara. Sesuai filosofi Orang Jawa, siapa
mereka yang banyak bicara pasti bakal dikira oleh orang lain tidak baik. Mungkin
salah satunya itu, walaupun ada juga yang mengumpulkan keberanian untuk
berbicara di depan dengan proses yang begitu lama agar dia benar-benar yakin dan
berani mengutarakan pendapatya maupun unek-unek yang berada di dalam kepalanya
selama ini dan sudah meluap-luap hingga tak sanggup menampungnya kembali. Akan
tetapi, adapula masalah lain yang membuat Mahasiswa-mahasiswamu ini yang berisi
begitu banyak persoalan tidak mau membaca dan bahkan malas untuk membaca
mungkin mereka belum bisa merasakan membeli buku yang disukai dan membacanya
pertama kali. Tetapi, bagi yang sudah memiliki rasa penasaran denga buku yang
ia inginkan maka ia akan mencoba membacanya dan memahami setiap kalimatnya dan
pasti itu pula yang akan membuat ia membeli buku-buku yang lainnya. Contoh yang
mudah saja jika sesorang menyukai novel Harry Potter dan baru membeli buku seri
pertama walaupun ada delapan seri dari seluruh novel dan ia sangat menyukai
novel tersebut maka dia berusaha untuk membeli dan membacanya. Bahkan belajar
dari pengalaman saya sendiri untuk menyobek plastik yng membungkus novel
tersebut terasa berat dan sangat eman-eman (dalam bahasa jawa). Untuk menekuk
kertasnya saja pun tidak berani bahkan setelah selesai membaca novelnya plastik
yang sebelumnya membungkus buku tersebut tidak saya buang akan tetapi saya
simpan dan saya gunakan untuk membungkus novel itu kembali karena sangat
merasakan suka banget dengan novel. Memang agak sedikit lebay, akan tetapi
itulah yang saya lakukan dan ini benar adanya.
Begitu
berpengalamannya Bapak yang jauh lebih dahulu tua dangan mengetahui apa yang
dilakukan para Mahasiswa-mahasiwamu ini ketika di kos dengan menebak sedang
asyik menata bantal, seprai, dan guling di kamar dan semua itu memang benar
adanya bagi saya. Memang benar memaksakan orang untuk memahami maksud orang itu
memanglah berat bahkan bisa dikatakan sulit dilakukan tanpa adanya pelbagai
macam percobaan yang dilakukan secara nyata dan bukan opini belaka? Menurut
saya sediri bagi orang yang bisa mengikuti dengan berbagai proses pembelajaran
maka dia akan bisa menyesuaikan denga mudah akan tetapi memang banyak yang
tidak bisa menempatkan diri dalam berbagai proses belajar. Seharusnya mereka
jauh lebih tau kalau perkembangan zaman itu terus berkembang tidak diam di
zaman itu saja. Oleh karena itu, menurut saya mengketegorikan tipe belajar akan
jauh lebih efektif untuk membuat pembelajaran lebih aktif dan operasional. Saya
meminta maaf jika ada kata ataupun kalimat saya yang kurang begitu berkenan.
Karena manusia adalah tempatnya salah dan memang itulah garis yang tidak bisa
diubah bahkan dihapuskan.
Daripada
saya berbicara bohong lebih baik tidak bicara saja, hanya diam toh sama-sama
tidak ada gunanya juga untuk kita dimasa mendatang. Mungkin cukup ini yang bisa
sampaikan untuk membalas semua unek-unek Bapak yang begitu mengelitik dan
membuat tertawa ketika membaca suratnya. Walaupun, sebenarnya tidak boleh
ditertawkan namun itulah kenyataannya saya baru kali ini membaca surat di buat
tugas dan kata-kata bahkan kalimatnya membuat tertawa terpingkal-pingkal dan
sedikit membuat mual perut. Surat ini saya tulis dengan sejujur-jujurnya tanpa
ada paksaan dari pihak manapun dan surat ini bersifat personal. Saya memohon
maaf jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan dalam penulisan surat kali
ini. Sampai Jumpa kembali dan salam kenal untuk Bapak. Ya, Salam Tinju
Balalala. Salam yang saya gunakan ketika gembira dan bersemangat.
(M.W.W)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar