Rabu, 21 Desember 2016

MENULIS SURAT
Oleh Muhammad Wahyu Wibowo
           
Selamat malam juga dan salam kenal untuk Bapak yang sangat sibuk dengan pelbagai urusannya yang sangat padat hingga tiada waktu untuk bersapa salam dalam Penulisan Media Massa.
            Hari demi hari detik demi detik waktu pun terus berlalu, mungkin memang saya melewatkan pelbagai informasi terbaru ataupun kegiatan yang sedang digandrungi oleh anak-anak zaman sekarang. Namun, saya tidak melewatkan hari-demi hari detik demi detikku dengan bermalas-malasan yang hanya melihat telepon genggam dan memandangi pelbagai setatus orang yang mereka tulis dalam pelbagai aplikasi yang hanya berisi curahan hati yang tidak begitu penting, walaupun banyak juga yang menaruh informasi penting. Oleh karena itu saya mengisi kekosongan hari demi hari detik demi detiku saya isi dengan pelbagai macam kegiatan seperti membaca buku walapun tidak semua buku yang saya baca adalah materi pembelajaran. Adapun buku yang lain yang saya baca seperti novel action yang merupakan novel kesukaanku dan ada banyak novel yang lain. Adapula, koran yang saya baca walapun tidak semua koran saya baca diantaranya Suara Merdeka yang sering memberikan informasi terkini dari Jawa Tengah walaupun yang saya cari hanya tentang perkembangan ekonomi dan sastra terbaru yang sedang berkembang akan tetapi harganya relatif mahal hingga 5.500 perkoran. Adapula, media massa lain yang saya baca Teribun Jateng disana saya juga membaca menganai berita yang sedang hangat dibicarakan. Ya, memang terutama di sastra tentunya? Salah satu informasi yang baru saya dapatkan saat sedang makan nasi goreng dan sambil minum es teh malam ini Senin, 17 Oktober 2016 tepatnya. Dalam opini yang ditulis dan dipublikasikan melalui koran Teribun Jateng oleh Bandung Mawardi seorang Kritikus Sastra  mengenai “Memahami Padepokan”. Membuat aku tidak fokus kepada makananku akan tetapi hanya fokus terhadap opini yang ia tulis begitu menarik.
            Tak apa jika Bapak tidak bisa hadir untuk bersapa salam dalam Penulisan Media Massa kali ini. Dengan pelbagai kesibukan yang begitu menyita waktu hingga tak ada sedikitpun ruang di hati kecuali hanya terisi dengan kemuliaan untuk mengembangkan sastra. Ketidak berhadiran Bapak untuk bersapa salam dalam pertemuan kali ini tidak menciutkan saya untuk hanya diam dan bahagia dengan kekosongan yang begitu mencekam pikiran untuk tidak digunakan dalam mempertajam pemahaman. Tidak ada kata lain yang bisa saya ucapkan untuk mewakili semua perjuangan Bapak yang begitu gigih untuk tetap profesional dalam mengajar dan menghadiri pertemuan para kage (pertemuan para sastrawan) yang sering aku sebut begitu. “Terima kasih”. Hanya itu kalimat yang dapat saya sampaikan kepada semua perjuangan Bapak dalam memajukan Sastra dan juga saya dalam pemahaman penulisan media massa. Bisa dilihat dari surat yang Bapak berikan kepada saya secara personal pada paragraf 3 kalimat pertama. Terlihat jelas jika Bapak masih sangat peduli dengan saya walaupun dengan begitu banyak kesibukan yang menyita waktu.
            Hanya doa yang bisa saya panjatkan lalu dendangkan bahkan kumandangkan untuk menyertai keberangkatan Bapak untuk menemui para kage yang ada di Badan Bahasa Jakarta sana.  Semoga pidato bapak dan tafsiran Bapak yang Bapak lontarkan bisa membuat para kage yang lain untuk tergugah kepala yang berisi otak untuk berpikir dada yang dibalut dading dan dilindungi oleh tulang rusuk dan disana ada hati untuk diberikan pencerahan akan masa depan sastra yang akan mendatang. Maaf, jika ada kata ataupun kalimat saya yang tidak begitu berkenan dan kurang sopan karena hanya bermodalkan pemahaman yang masih sedikit saya miliki kemudian saya terapkan dalam berbahasa. Begitu jujur atau mungkin begitu benar Bapak dalam menuliskan kalimat mengenai Mahasiswamu ini yang begitu pandai menutup-nutupi segala kekurangan dan mengurang-ngurangi segala kelebihan. Mungkin ada pelbagai alasan kenapa Mahasiswa-mahasiswamu ini bersikap begitu dingin hingga tak ada sedikitpun ruang di hati keculai hanya berisi dengan dosa, dosa kecil dosa besar hingga menumpuk melebihi sampah-sampah. Namun, tidak semua Mahasiswamu ini begitu bersikap dingin seperti halnya kutub utara yang begitu dingin hingga tak ada orang yang ingin tinggal disana. Ada juga, Mahasiswamu ini bersikap diam dan dingin seperti orang mati namun ia paham akan semua kata atau bahkan kalimat yang Bapak maksudkan. Oleh karena itu, mungkin ia menunjukkan dengan bersikap diam dan dingin untuk tidak mencari perhatian atau bisa dibilang jaga imet. Walaupun, tidak semua seperti itu tapi pasti dia ada.
            Adapula alasan tertentu yang membuat Mahasiswa-mahasiswamu ini begitu diam hingga tidak mau berterus terang dalam berbicara, mengutarakan pendapat, ataupun unek-unek yang berada pada kepala yang dibaluti dengan rambut dan ditutupi oleh kulit yang didalamya terdapat otak yang berisi begitu banyak persoalan dan pertanyaan yang ia pikirkan. Mungkin? Mereka mempunyai begitu banyak pikiran yang ada didalam kepalanya namun tidak pernah berani berterus terang untuk membicarakannya. Biasanya mereka berada dalam kaum minoritas atau kaum yang pendiam dan memang tidak suka banyak bicara. Sesuai filosofi Orang Jawa, siapa mereka yang banyak bicara pasti bakal dikira oleh orang lain tidak baik. Mungkin salah satunya itu, walaupun ada juga yang mengumpulkan keberanian untuk berbicara di depan dengan proses yang begitu lama agar dia benar-benar yakin dan berani mengutarakan pendapatya maupun unek-unek yang berada di dalam kepalanya selama ini dan sudah meluap-luap hingga tak sanggup menampungnya kembali. Akan tetapi, adapula masalah lain yang membuat Mahasiswa-mahasiswamu ini yang berisi begitu banyak persoalan tidak mau membaca dan bahkan malas untuk membaca mungkin mereka belum bisa merasakan membeli buku yang disukai dan membacanya pertama kali. Tetapi, bagi yang sudah memiliki rasa penasaran denga buku yang ia inginkan maka ia akan mencoba membacanya dan memahami setiap kalimatnya dan pasti itu pula yang akan membuat ia membeli buku-buku yang lainnya. Contoh yang mudah saja jika sesorang menyukai novel Harry Potter dan baru membeli buku seri pertama walaupun ada delapan seri dari seluruh novel dan ia sangat menyukai novel tersebut maka dia berusaha untuk membeli dan membacanya. Bahkan belajar dari pengalaman saya sendiri untuk menyobek plastik yng membungkus novel tersebut terasa berat dan sangat eman-eman (dalam bahasa jawa). Untuk menekuk kertasnya saja pun tidak berani bahkan setelah selesai membaca novelnya plastik yang sebelumnya membungkus buku tersebut tidak saya buang akan tetapi saya simpan dan saya gunakan untuk membungkus novel itu kembali karena sangat merasakan suka banget dengan novel. Memang agak sedikit lebay, akan tetapi itulah yang saya lakukan dan ini benar adanya.
              Begitu berpengalamannya Bapak yang jauh lebih dahulu tua dangan mengetahui apa yang dilakukan para Mahasiswa-mahasiwamu ini ketika di kos dengan menebak sedang asyik menata bantal, seprai, dan guling di kamar dan semua itu memang benar adanya bagi saya. Memang benar memaksakan orang untuk memahami maksud orang itu memanglah berat bahkan bisa dikatakan sulit dilakukan tanpa adanya pelbagai macam percobaan yang dilakukan secara nyata dan bukan opini belaka? Menurut saya sediri bagi orang yang bisa mengikuti dengan berbagai proses pembelajaran maka dia akan bisa menyesuaikan denga mudah akan tetapi memang banyak yang tidak bisa menempatkan diri dalam berbagai proses belajar. Seharusnya mereka jauh lebih tau kalau perkembangan zaman itu terus berkembang tidak diam di zaman itu saja. Oleh karena itu, menurut saya mengketegorikan tipe belajar akan jauh lebih efektif untuk membuat pembelajaran lebih aktif dan operasional. Saya meminta maaf jika ada kata ataupun kalimat saya yang kurang begitu berkenan. Karena manusia adalah tempatnya salah dan memang itulah garis yang tidak bisa diubah bahkan dihapuskan.
            Daripada saya berbicara bohong lebih baik tidak bicara saja, hanya diam toh sama-sama tidak ada gunanya juga untuk kita dimasa mendatang. Mungkin cukup ini yang bisa sampaikan untuk membalas semua unek-unek Bapak yang begitu mengelitik dan membuat tertawa ketika membaca suratnya. Walaupun, sebenarnya tidak boleh ditertawkan namun itulah kenyataannya saya baru kali ini membaca surat di buat tugas dan kata-kata bahkan kalimatnya membuat tertawa terpingkal-pingkal dan sedikit membuat mual perut. Surat ini saya tulis dengan sejujur-jujurnya tanpa ada paksaan dari pihak manapun dan surat ini bersifat personal. Saya memohon maaf jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan dalam penulisan surat kali ini. Sampai Jumpa kembali dan salam kenal untuk Bapak. Ya, Salam Tinju Balalala. Salam yang saya gunakan ketika gembira dan bersemangat.


(M.W.W)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar