Joko
Keliru
Karya Tri Mardani
Penulis naskah M. Wahyu Wibowo
Penulis naskah M. Wahyu Wibowo
Tokoh
1.
Joko keliru
: Tri Mardani
2.
Nawang sinawang : Hadiyanti Indah
3.
6 Bidadari :
1.
Nawang melon : Arum
2.
Nawang Semongko : Rohmatul .H
3.
Nawang Lemon : Desi Mut
4.
Nawang Lasep : Dian Putri .C
5.
Nawang pakel : Desi .W
6.
Nawang Rau : Elma .S
4.
Kelonano
: M. Wahyu wibowo
5.
Sriwil (Ibu Joko)
: Fitria Ningrum
Setting 1(
Kali/Sungai)
Terdapat
sekelompok bidadari yang sedang mandi disebuah sungai. Namun yang menjadi
pertanyaan,tidak disadari oleh para bidadari tersebut sungai itu ternyata terdapat banyak sampah
ditepian-tepian kalinya. Namun para bidadari tidak menghiraukannya. Kemudian
ada salah satu bidadari bernama nawang lemon yang sangat tidak nyaman dengan
keberadaan sampah di sungai tersebut.
1.
Nawang lemon : “apa
kalian tidak merasa bahwa sungai ini sudah tercemar?”
2.
Nawang melon : “tak
usah kau hiraukan nawang lemon, kita menepi saja mencari tempat yang lumayan bersih.”
3.
Nawang rau : “bawasaanya
manusia memang tidak mau merawat apa yang sudah dikaruniai dari sang pencipta.”
4.
Semua dewi : “iya
betul (seraya mengucap bersamaan)”
Dari sisi lain
terdapat penjaga sungai itu yang bernama nawang sinawang. Dia adalah sesosok
dewi yang menjaga sungai tersebut. Dewi tersebut senantiasa menjaga sungai
tersebut meskipun banyak sampah yang berserakan di tepian. Namun nawang
sinawang merasa iri akan kecantikan para bidadari yang ia lihat sedang mandi
disungai tersebut.
5.
Nawang sinawang : “apa
kah saya mungkin, bisa menjadi bagian dari bidadari yang jelita
itu ya? (berada di kejauahan, sembari mengendap-endap
dan ikut mandi dengan rombongan bidadari
tersebut.)”
Setting 2
(hutan)
Terdapat 2
pemuda bernama Joko keliru dan kelonano dari arah hutan yang hendak pergi
berburu, diketahuilah kelonano bawasanya terdapat rombongan para bidadari yang
sedang mandi dan memberi tahu ke sahabatnya yaitu joko keliru
6.
Kelonano : “jok!!”
7.
Joko keliru : “apaa
lon, membuat kaget saya saja.”
8.
Kelonano : “ada rombongan widodari yang sedang mandi”
9.
Joko keliru : “mana?
Ayo intip saja”
Bergegaslah
joko kelonano melihat para bidadai tersebut dan segera mengendap denap guna
mengintip. baru saja mereka sampai para bidadaripun sadar akan kehadiran 2
oeang laki laki yang sedang mengintip. Kemudian pergilah para bidadari
meninggalkan sungai tersebut dan menuju kayangan. Namun nawang sinawang tidak
bisa mengelak dari joko keliru dan kelonano karena tersandung sebuah matu yang
membuat ia tidak sanggup untuk berjalan. Di hampirilah nawang sinawang oleh
joko keliru dan kelonano karena mengira ia adalah salah satu dari segerombolan
bidadari yang sedang mandi tadi.
10. Joko keliru : “kenapa
kamu tidak ikut terbang bersama mereka?”
11.
Nawang sinawang : “(diam,bungkam)karena
dia sadar kalau bukan kelompok bidadari yg sedang mandi tadi,”
12.
Joko keliru : “kakimu
kenapa?kamu terluka?”
Joko tetap
mengira bahwa nawang sinawang adalah salah satu dari mereka(bidadari). Karena
melihat dewi tersebut kesusahan untuk jalan, jokopun menawarkan sebuah tawaran
13. Joko keliru : “ternyata
kamu sedang terluka dan tidak bisa jalan,”
14.
Nawang sinawang: “tetap
bungkam karena menyembunyikan identitasnya bahwa dia seorang
penjaga kali.”
15.
Joko keliru : “apabila
saya bisa menyembuhkan luka kakimu, saya akan kamu beri apa?”
16.
Nawang sinawang: “saya
tidak punya apa-apa, kacantikan aku tak punya, hartapun aku tiada. Terpaksa menjawab karena terpojok akan pertanyaan joko
keliru dan menggunakan cadar untuk menutupi raut wajahnya.”
17.
Joko : “kalau saya bisa menyembuhkan lukamu kamu harus mau menjadi
istriku. ( dengan memaksa)”
18.
Kelonano : “sttttt,
mbok ya dipikir-pikir dulu apa yang kamu katakan. Kamu kan belum tau siapa dia?”
19.
Joko : “sudahlah lon, aku yakin kalau dia seorang bidadariyang catik dan kelak aku pasti akan hidup bahagia.”
Karena terdesak
dan sangat membutuhkan pertolongan nawang sinawang pu bersedia untuk
ditolongnya.
Setting 3
Dibawalah nawang kerumahnya. Ceritalah joko kepada ibunya
20.
Joko : “mbok simbok, saya membawa perempuan dan yang pasti dia akan jadi istriku kelak.”
21.
Sriwil : “husss, kamu itu membawa perempuan itu dari mana?”
22.
Joko : “dia
itu bidadari mbok, yang turun dari kayangan dan saya pergoki bersama kelonano sedang mandi dikali sebelah. Dia kelak akan
menjadi istriku dan hidupku pasti akan bahagia mbok. Tapi dia
sekarang sedang terluka dan simbok harus menyembuhkannya.”
23.
Sriwil : “ Ini anak udah kebelet nikah amat, kelamaan
hidup dihutan apa ya? jangan-jangan kalau tidak menemukan perempuan sekalipun.
mungkin kelonano bakal kamu nikahi.”
24.
Joko : “ ngawur simbok, aku iki waras. lah anake
dewe malah di kiro edan. Orak sekalian ngawini kuwe wae mbok.” (tersenyum marah)
25.
Sriwil : “ Eh lah dalah, iki cerito joko keliru.
bukan cerita sebelah. uwes-uwes kuwe suwi-suwi malah nglantur ae wes kono
lungo.” (sambil mengusir joko)
26.
Joko : “ loh aku pengen weruh calon bojoku malah di
kon lungo.”
27.
Sriwil : “anak ini memang durhaka tidak mau nurut
sama orang tua, mau kamu saya kutuk jadi batu.” (eksresi marah sambil sebal)
28.
Joko : “eh eh eh, emangnya ini cerita sebelah mbok.
pakai kutuk-kutuk segala.” (sambil berlari keluar kamar)
29.
Sriwil : “bocah tidak punya aturan apa dulu aku kasih
makannya kebanyakan micin ya, jadinya seperti itu.” (sembari berpikir)
Kemudian bersedialah sriwil mengobati dewi
yang dibawa anaknya tadi
Setting 4
(kamar)
30.
Sriwil : “kau sebenarnya itu siapa sehingga anakku sangat
tergilagila sehingga
ia percaya kalau kelak dia akan bahagia denganmu( sembari mengurut kaki nawang sinawang)”
31.
Nawang : “saya
dewi nawang sinawang nyai,( tetap menyembunyikan identitas, )”
32.
Sriwil : “apa yg kau lakukan terhadap anak saya sehingga menjadi seperti itu”
33.
Nawang : “tetap bungkam”
Dan tidak
disengaja cadar yg dipakai nawangpun terlepas, sriwilpun lantas mengetahui
siapa sebenarnya nawang, namun sriwil tetap bungkam terhadap joko bahwa perempuan
yang disukainya adalah seorang penjaga kali yang buruk rupa. Demi kesembuhannya
dewipun harus rehat dan tinggal dirumah joko.
Namun hari demi
hari dewi tinggal dirumah joko, sriwilpun terheran heran melihat kepribadian
nawang sinawang yang sangat rajin dan mau mengurus semua urusan yang seharusnya
sriwil lakukan.
Kemudian tibalah kelonano dirumah untuk mengahampiri anaknya(joko)
dan diajaklah joko untuk berburu.
34.
Kelonanano : “jok,
kehutan yok. Pasti kita akan dapat buruan yang banyak.”
35.
Joko : “ayok. Dengan berbunga-bungan seperti orang jatuh cinta”
36.
Kelonano : “kamu yakin jok sama keputusan kamu, kamu
aja belum lihat mukanya seperti apa bahkan dia
bicarapun hanya sepatah kata saja.”
37.
Joko : “alah kamu pasti irikan sama aku, karena aku
yang dapat seorang bidadari.”
38.
Kelonano : “aku bukannya iri denganmu jok, aku hanya
memberikan saran padamu saja. coba kamu pikirkan apa ya
kamu langsung ingin menikahi wanita tadi.” kamu bahkan
belum jelas wanita itu siapa dan dari mana.”
39.
Joko : “kamu tidak usah khawatir, aku sangat yakin
sama keputusanku sekarang ini.” (wajah sangat
bahagia dan berseri-seri)
40.
Kelonano : “oke itu terserah kamu saja, aku hanya berusaha
memberikan saja sama kamu saja. Tapi ingat!
ketika ada masalah apa-apa jangan ikutkanku.” (sembari menoleh sana sini mencari buruan)
41.
Joko : “kalau kamu bacot muluk gimana kita bisa
menemukan buruan kita. Bocah gemblung.”
42.
Kelonano : “ Ah, kadal. kamu memanah aja ndak bisa
sok-sokan mau dapat buruan palingan juga aku lagi yang
dapat.”
43.
Joko : “Ah bacot muluk loh.(sambil menyumpal mulut
kelonano kemudian berlari)
44.
Kelonano : “Bocah gemblung, jangan lari kamu. (mengejar
joko)
Sangat
lama menunggu dan tidak kunjung mendapatkan buruan, mereka berdua haus dan
ingin minum akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke sungai guna mengambil air
minum. tapi disana mereka malah bertemu dengan bidadari lagi.
45.
Kelonano :
“jok jok, sini buruan.” (sambil mengintip bidadari yang sedang mandi)
46.
Joko :
“opo sih Lon. kawet mau riwil wae kuwe.”
47.
Kelonano :
“ itu loh ada bidadari pada mandi”
48.
Joko :
“ opo kuwe muni, bidadari lagi mandi?”
Joko bukan mengintip malah langsung keluar dengan
tiba-tiba dan dia berkata...
49.
Joko :
“salah satu teman kalian sudah ada padaku, sudah saya tangkap dan saya bawa pulang.” (sembari
tertawa kencang)
50.
Bidadari :
“ apa katamu, menangkap salah satu dari kami. kalian para manusia tidak akan pernah bisa menangkap
kami. bahkan kamipun masih bertujuh iya kan
saudariku.”
51.
bidadari lain :
“ iya saudariku.” (menjawab serentak)
52.
Joko :
“ terserah apa kata kalian yang penting teman kalian udah ada yang
saya tangkap.” (bersikeras)
53.
bidadari :
“itulah sifat manusia keras kepala dan tidak pernah mau mendengarkan orang lain. tapi tidak mengapa,
kamu mau percaya atau tidak itu bukan urusan kami.”
(sambil pergi terbang)
54.
Kelonano :
“ jok sepertinya apa yang dikatakn oleh bidadari tadi ada benernya juga.”
55.
Joko :
“ alah kamu mau saja di perdaya oleh bidadadri tadi, aku masih yakin sama pendirianku
bahwa yang aku bawa pulang adalah seorang bidadari.”
56.
Kelonano :
“ iya juga sih?” (sambil garuk-garuk kepala)
57.
Joko :
“ayo pulang, kamu ngapain ngelamun muluk. buruan tidak
dapat maah kesambet ntar yang ada.”
58.
kelonano :
“ halah kamu ngacok ajak bicaranya.” (sambil berjalan pulang)
59.
kelonano :
“ kamu diam muluk dari tadi jangan-jangan kamu yang kesambet,
dari tadi kamu diam muluk.”
60.
joko :
“ aku hanya berpikir kenapa bidadri tadi bilang dari rombongan
mereka tidak ada yang hilang, kan yang satu udah aku tangkap.”
61.
Kelonano :
“ yasudah ayo kita cepet pulang nanti kamu tanyakan saja pada calon istrimu tadi.”
Sampai dirumah
Joko, Jokopun bertanya kepada nawang sinawang siapa dia sebenarnya.
62.
Joko :
“ mbok, mana bidadari yang tadi aku bawa pulang.”
63.
Srintil :
“Tenang wanita itu ada di kamar simbok, kamu temui saja sana.”
64.
Joko :
“ siapa kamu sebenarnya, kenapa kamu hanya diam saja dari
tadi.”
65.
nawang sinawang :
“(diam menatap muka Joko)”
66.
Joko :
“ ayo jawab, kenapa kamu hanya diam saja. Siapa kamu sebenarnya.”
67.
Srintil :
“ ada apa ini, kenapa kamu teriak-teriak begitu lembut Joko
hingga telingga kamu sampai mau pecah.”
68.
Joko :
“teriak ya keras dong mbok masak lembut, dan juga yang telingganya
mau pecah kan harusnya simbok bukan aku.”
69.
Srintil :
“Kamu ini di kasih tahu orang tua malah bantah muluk”
70.
Joko :
“ini yang bego aku apa emak saya yang bego, ah sudahlah pokoknya
aku mau tanya siapa wanita ini sebenarnya. dia dari
tadi tidak ingin bicara mbok.”
71.
Srintil :
“ oh jadi begitu, yasudah coba kamu tanya baik-baik jangan
pakai nada lembut gitu dong tanyanya. wanita kan perlu dikasih kelembutan.” (senyum manja)
72.
Joko :
“mbok kesambet ya. udahlah ayo cepat jawab siapa kamu yang
sebenarnya.”
73.
Nawang sinawang :
“ sebenarnya aku(sambil gagap) aku adalah penjaga sugai saja
dan aku juga bukan seorang bidadari.”
74.
Joko :
“(membuka cadar yang dipakai nawang), walah lah siluman
kortes jebule. makane di takoni meneng wae. kuwe tak jak kawin makane
seneng, lah aku saiki seng gak seneng.”
75.
Srintil :
“sumbhanallah.” wajahmu memilukan hatiku ndok( menangis kemudian terdiam).
76.
Joko :
“ kamu lebih baik pergi dari sini kamu silmuan seenak jidat
kamu ngaku-ngaku sebagai bidadari.” (berteriak pergi)
77.
Nawang sinawang :
“(sambil menangis dan mengambil cadar yang ia miliki ia berlari
keluar rumah meninggalkan rumah Joko kemudian menuju kekali).”
78.
Joko :
“ lah apa iya aku kawin sama siluman kortes.” (menyesal)
79.
Srintil :
“Joko jangan pernah mencari pasangan dari fisiknya nak, kamu
bahkan sudah janji akan menikahi dia. kamu yang saat bersikeras
membawanya pulang dan mengakatan bahwa
akan menikahinya mana janji kamu nak.”
80.
Joko :
“ apa iya aku harus nikah sama siluman kortes seperti tadi mbok”
81.
Srintil :
“Ingatlah akan janjimu nak.” (sembari menangis)
Joko berubah pikiran dan ingin tetap menepati janji
seperti yang telah ia katakan...
82.
Joko :
“ Baiklah mbok mungkin ini memang takdirku, siapa suruh
aku berjanji tanpa bertanya dahulu. Maafkan aku mbok. Aku akan menjemput nawang lagi ke kali.”
83.
Kelonano : “ono opo jok kok
mlayu-mlayu” (memasang wajah bingung)
84.
Joko :
“sudahlah nanti aku jelaskan yang penting temani aku dulu
mencari nawang sinawang.”
85.
Kelonano :
“oh jadi namanya Nawang Sinawang toh.” (menganggukkan kepala
berkali-kali).
86.
Joko :
“ Sudah ayo jalan, janga malah dugem disini.” (sambil menjenguk
kepala Kelonano)
Dalam perjalanan mereka hanya terdiam baik Joko Maupun
Kelonano..
87.
Joko :
“Nawang, maafkan aku aku telah berbicara kasar pada kamu.
Ayo kita pulang aku tidak akan pernah mengusirmu lagi.” (membujuk Nawang)
88.
Nawang Sinawang :
“Apa kamu serius dengan kalimatmu, apa kamu yakin ingin
menikahiku?”
89.
Joko :
“Aku akan mengatakannya ketika tiba dirumah, ayolah kita
pulang maafkan aku.”
90.
Nawang sinawang :
“Baiklah aku mau ikut denganmu.”
Akhirnya Joko mau merubah
pikiran dan sikap untuk belajar mencintai Nawang sinawang yang tidak memiliki
kecantikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar