Monolog Balada
Sumarah
Oleh Muhammad Wahyu
Wibowo

Selasa
4 Oktober 2016, teater Gema di Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang
dibuka dan ditampilkan ke khalayak umum untuk memantapkan diri mewakili Jawa
Tengah dalam ajang Teater Monolog Nasional. Sekitar 200 penoton dari Mahasiswa
dan Siswa-Siswi SMA menyaksikan pagelaran tersebut. Adapula, yang memadati
bangku penonton adalah Mahasiswa Universitas PGRI Semarang lebih tepatnya
Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni yang penasaran dengan bagaimana
Monolog Balada Sumarah itu sendiri sebagai pembelajaran untuk bekal dalam penerapan
mengajar.
Teater
Gema yang sebelumnya menampilkan Monolog Balada Sumarah dalam ajang perlombaan
tingkat Jawa Tengah berambisi untuk mendapatkan juara 1. Puji tuhan, Teater
Gema mendapatkan juara 1 dan berhak mewakili Jawa Tengah dalam ajang Teater Monolog
Nasional di Sumatra. Setelah mendapatkan amanat dari daerah Jawa Tengah untuk
mewakili dalam tingkat Nasional. Teater Gema bertekad kembali untuk menampilkan
penampilan terbaik agar bisa menjuarai Teater Monolog Nasional seperti tahun
sebelumnya. Pada tahun sebelumnya juara Teater Monolong Nasional telah di
pegang oleh daerah Jawa Tengah. Oleh karena itu, teater Gema bertekad untuk
mempertahankan dan menjuarai kembali Monolog Nasional yang dua tahun
berturut-turut dipegang oleh daerah Jawa Tengah. Dengan langkah hati-hati namun
pasti para aktor dan aktris memainkan peran dengan total dan mendalami tiap
karakter. Agar dapat menampilkan penampilan secara natural dan tidak nampak
seperti sedang memainkan peran. Para penoton saat menyaksikan penampilan pertama
seperti terhipnotis dalam cerita dan ikut merasakan kedalam cerita. Para
penoton dengan hikmat tiada yang beranjak dari bangku penonton mereka
benar-benar terhipnotis oleh penampilan aktris berusaha mendalami benar-benar
peran Ia. Itu pula yang menjadi pelajaran bagi para Mahasiswa dan siswa-siswi
SMA agar dalam menampilkan apapun harus didasari oleh totalis pemain dan
penjiwaan penuh dari setiap pemain maupun peran pendukung lainnya. Adapula,
bagi para pencinta teater atau seni peran menjadikan motivasi agar bisa lebih
mendalami bagaimana bermain peran yang baik dan bisa memukau penonton.
Saat pertama kali memasuki ruangan penonton
sudah disajikan dengan tampilan gelap gulita yang sering dilihat saat
teater-teater lainnya. Ditengah panggung terdapat kotak besar dan hanya di
sorot oleh satu lampu warna kuning. Tanpa disadari oleh penonton lainnya
ternyata terdapat seorang aktris yang berperan sebagai Sumarah. Ia tiba-tiba
berteriak dari dalam kotak dan tidak di sorot oleh lampu sang aktris memakai pakaian
warna putih yang membuat penonton perempuan menutup mata secara tiba-tiba
dikarenakan takut. Namun, seperti penonton
seakan-akan merasakan sendiri kedalam monolog yang digambarkan dan diperankan
total oleh aktris. Penonton yang sebelum menonton pentas Monolog hanya
berpikiran mungkin penampilannya hanya biasa-biasa saja seperti monolog-monolog
lain terpatahkan oleh penampilan total aktris yang memerankan sebagai Sumarah
sang anak pembokat PKI.
Dalam
pentas Monolog ini tubuh aktris bergerak mengambarkan tempat dan suasana yang
sedang Ia hadapi. Kata-kata yang dilontarkan untuk menjelaskan percakapan atau
kondisi yang sedang Ia alami. Hal itu menjadikan sihir tersendiri kepada
penonton yang hikmat memperhatian monolog Sumarah untuk membawa penonton kedalam
cerita dan ikut meraskan apa yang Ia alami. Semua itu, ditunjukan dengan
sempurna oleh aktris yang memarankan Sumarah. Oleh karena itu, pagelaran pentas
seni Monolog Balada Sumarah yang disajikan oleh teater Gema merupakan kisah
atau peristiwa sejarah yang sampaikan dalam miniatur monolog. Namun, tetap saja
perjalanan sejarah dihadirkan dengan konflik yang kompleks melalui teks yang
dibaca oleh pemeran dengan cara disampaikan memalui peran yang digambarkan oleh
aktris melalui percakapan dan gerak tubuh. Memalui peran yang digambarkan oleh
aktris melalui percakapan dan gerak tubuh membuat para penonton berimprovisasi
dalam benak fikiran masing-masing. Dengan bukti nyata sejara besar yang telah
ditulis oleh sutradara melalui monolog maupun dialong.
Melalui
peran sang aktris, sutradara bisa membuat kenangan atau pengingat kembali
tentang adanya sejarah besar yang terjadi pada zaman dahulu. Itu pula, yang
membuat penonton akan selalu teringat dengan adanya sejarah besar yang pernah
terjadi di masa lampau. Bagi, para sejarawan atau penikmat sejarah melalu seni
peran, sejarah merupakan kesepakatan pasti yang harus diperankan, dikenang, dan
diwariskan untuk mengingat apa saja bukti-bukti yang pernah terjadi dan benar
adanya bukan hanya bualan ataupun opini belaka.
Dengan
adanya pentas Monolog Balada Sumarah oleh teater Gema mengingatkan kepada kita
semua sebagai penonton tentang kesulitan kehidupan pada zaman dahulu, tetang
sejarah besar pemberantasan PKI yang pernah ada di negara ini dan membuat
penduduk pribumi yang tidak bersalah tersangkut dan dikucilkan oleh sesama
hanya karena dianggap sebagai kaki tangan PKI.