Selasa, 11 Oktober 2016

Monolog Balada Sumarah
Oleh Muhammad Wahyu Wibowo
            Selasa 4 Oktober 2016, teater Gema di Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang dibuka dan ditampilkan ke khalayak umum untuk memantapkan diri mewakili Jawa Tengah dalam ajang Teater Monolog Nasional. Sekitar 200 penoton dari Mahasiswa dan Siswa-Siswi SMA menyaksikan pagelaran tersebut. Adapula, yang memadati bangku penonton adalah Mahasiswa Universitas PGRI Semarang lebih tepatnya Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni yang penasaran dengan bagaimana Monolog Balada Sumarah itu sendiri sebagai pembelajaran untuk bekal dalam penerapan mengajar.
            Teater Gema yang sebelumnya menampilkan Monolog Balada Sumarah dalam ajang perlombaan tingkat Jawa Tengah berambisi untuk mendapatkan juara 1. Puji tuhan, Teater Gema mendapatkan juara 1 dan berhak mewakili Jawa Tengah dalam ajang Teater Monolog Nasional di Sumatra. Setelah mendapatkan amanat dari daerah Jawa Tengah untuk mewakili dalam tingkat Nasional. Teater Gema bertekad kembali untuk menampilkan penampilan terbaik agar bisa menjuarai Teater Monolog Nasional seperti tahun sebelumnya. Pada tahun sebelumnya juara Teater Monolong Nasional telah di pegang oleh daerah Jawa Tengah. Oleh karena itu, teater Gema bertekad untuk mempertahankan dan menjuarai kembali Monolog Nasional yang dua tahun berturut-turut dipegang oleh daerah Jawa Tengah. Dengan langkah hati-hati namun pasti para aktor dan aktris memainkan peran dengan total dan mendalami tiap karakter. Agar dapat menampilkan penampilan secara natural dan tidak nampak seperti sedang memainkan peran. Para penoton saat menyaksikan penampilan pertama seperti terhipnotis dalam cerita dan ikut merasakan kedalam cerita. Para penoton dengan hikmat tiada yang beranjak dari bangku penonton mereka benar-benar terhipnotis oleh penampilan aktris berusaha mendalami benar-benar peran Ia. Itu pula yang menjadi pelajaran bagi para Mahasiswa dan siswa-siswi SMA agar dalam menampilkan apapun harus didasari oleh totalis pemain dan penjiwaan penuh dari setiap pemain maupun peran pendukung lainnya. Adapula, bagi para pencinta teater atau seni peran menjadikan motivasi agar bisa lebih mendalami bagaimana bermain peran yang baik dan bisa memukau penonton.
             Saat pertama kali memasuki ruangan penonton sudah disajikan dengan tampilan gelap gulita yang sering dilihat saat teater-teater lainnya. Ditengah panggung terdapat kotak besar dan hanya di sorot oleh satu lampu warna kuning. Tanpa disadari oleh penonton lainnya ternyata terdapat seorang aktris yang berperan sebagai Sumarah. Ia tiba-tiba berteriak dari dalam kotak dan tidak di sorot oleh lampu sang aktris memakai pakaian warna putih yang membuat penonton perempuan menutup mata secara tiba-tiba dikarenakan takut. Namun,  seperti penonton seakan-akan merasakan sendiri kedalam monolog yang digambarkan dan diperankan total oleh aktris. Penonton yang sebelum menonton pentas Monolog hanya berpikiran mungkin penampilannya hanya biasa-biasa saja seperti monolog-monolog lain terpatahkan oleh penampilan total aktris yang memerankan sebagai Sumarah sang anak pembokat PKI.
            Dalam pentas Monolog ini tubuh aktris bergerak mengambarkan tempat dan suasana yang sedang Ia hadapi. Kata-kata yang dilontarkan untuk menjelaskan percakapan atau kondisi yang sedang Ia alami. Hal itu menjadikan sihir tersendiri kepada penonton yang hikmat memperhatian monolog Sumarah untuk membawa penonton kedalam cerita dan ikut meraskan apa yang Ia alami. Semua itu, ditunjukan dengan sempurna oleh aktris yang memarankan Sumarah. Oleh karena itu, pagelaran pentas seni Monolog Balada Sumarah yang disajikan oleh teater Gema merupakan kisah atau peristiwa sejarah yang sampaikan dalam miniatur monolog. Namun, tetap saja perjalanan sejarah dihadirkan dengan konflik yang kompleks melalui teks yang dibaca oleh pemeran dengan cara disampaikan memalui peran yang digambarkan oleh aktris melalui percakapan dan gerak tubuh. Memalui peran yang digambarkan oleh aktris melalui percakapan dan gerak tubuh membuat para penonton berimprovisasi dalam benak fikiran masing-masing. Dengan bukti nyata sejara besar yang telah ditulis oleh sutradara melalui monolog maupun dialong.
            Melalui peran sang aktris, sutradara bisa membuat kenangan atau pengingat kembali tentang adanya sejarah besar yang terjadi pada zaman dahulu. Itu pula, yang membuat penonton akan selalu teringat dengan adanya sejarah besar yang pernah terjadi di masa lampau. Bagi, para sejarawan atau penikmat sejarah melalu seni peran, sejarah merupakan kesepakatan pasti yang harus diperankan, dikenang, dan diwariskan untuk mengingat apa saja bukti-bukti yang pernah terjadi dan benar adanya bukan hanya bualan ataupun opini belaka.

            Dengan adanya pentas Monolog Balada Sumarah oleh teater Gema mengingatkan kepada kita semua sebagai penonton tentang kesulitan kehidupan pada zaman dahulu, tetang sejarah besar pemberantasan PKI yang pernah ada di negara ini dan membuat penduduk pribumi yang tidak bersalah tersangkut dan dikucilkan oleh sesama hanya karena dianggap sebagai kaki tangan PKI.