Rabu, 21 Desember 2016

BEDAH BUKU UPGRIS
Oleh Muhammad Wahyu Wibowo
           
            Rabu, 18 Oktober 2016 lalu telah diselengarakan sebuah bedah buku yang bertajuk 3 kritikus 3 pembaca 1 pengarang diadakan oleh Universitas PGRI Semarang bertempat di Balairung Universitas PGRI Semarang. Semua pendengar maupun penonton yang mayoritas adalah Mahasiswa Universitas PGRI Semarang sendiri serentak memakai pakaian Batik dan mengunakan celana bahan yang identik mengambarkan bahwa seorang pendidik. Oleh karena itu seluruh Mahasiswa yang menghadiri diwajibkan memakai pakaian batik untuk mengajarkan memberi contoh bahwa mereka adalah calon pendidik yang memiliki moral dan berjiwa loyalitas. Acara tersebut diselengarakan oleh Universitas PGRI Semarang guna memberikan apresiasi kepada salah satu penyair Sastra yaitu Triwiyoko yang begitu banyak halangan menghadang masih tetap mempertahankan untuk menjadi seorang penyair aktif dan masih di perhitungkan oleh sastrawan-sastrawan di seluruh penjuruh nusantara bahkan di dunia. Beberapa karya beliau telah di terjemahkan kedalam bahasa inggris guna mempelajari apa itu sastra oleh orang barat.
            Begitu memasuki gedung yang begitu megah kita khususnya Mahasiswa dan seluruh penonton di buat tercengang dengan yang ada di dalamnya telah di dekor untuk memberikan penghargaan kepada seorang penyair. Di dalam gedung telah dipenuhi oleh orang-orang penikmat sastra yang ingin menyaksikan bedah buku oleh penyair sastra yang diadakan pada Rabu, 18 Oktober 2016 di Universitas PGRI Semarang. Penataan lampu yang hanya berwarnakan kuning remang-remang disorotkan kepada dua orang penari dansa untuk memberikan pencahayaan terhadap aktris dan aktor yang sedang menari dengan lemah gemulai memikuti alunan lagu melo dan membuat orang hanyut terhadap alunan lagu yang dibawakan. Adapula setelah pemain dansa selesai lansung diganti dengan penampilan yang begitu membuat orang-orang bertanya dengan apa yang dilakukan oleh 7 orang perempuan 6 menghadap ke cermin dan 1 orang menghadap penoton. Apa yang dilakukan oleh perempuan-perempuan itu, lalu apa maksudnya? Ternyata dibalik penampilan 7 orang perempuan yang menghadap cermin sambil membacakan salah satu karya puisi yaitu untuk menghargai dan memberikan ucapan selamat datang terhadap penyair Triwiyoko. Namun, sayang tak berjalan dengan apa yang telah diharapkan bagaikan katak merindukan hujan.
            Peradaban modern memang telah merubah segalanya tak terkecuali kebiasaan masyarakat terutama anak muda zaman sekarang lebih condong untuk bermain handphone dibandingkan dengan bermain bersama teman-temannya. Begitu pula cara anak muda zaman sekarang yang dianggap kurang mampu menghargai antar sesama. Pemertahanan bahasa yang dahulunya masih khas dan kental dengan kehidupan cara bermasyarakat pribumi, sekarang semakin lama semakin luntur dan hilang tanpa memikirkan bagaimana dampak yang akan terjadi selanjutnya.
            Masyarakat kita hanya akan mengakui bahasa kita atau mengakui semua budaya dan kebiasan kita, ketika semua itu diambil dan diadopsi oleh bangsa dan negara lain, bagaimana semestinya yang harus dipertahankan. Akan tetapi, ketika sudah diambil oleh negara kita kembali budaya itu akan dibiarkan kembali oleh masyarakat kita. Lalu mengpa diambil kembali oleh negara kita kalau hanya dibiarkan dan dilupakan.

            Lebih baik dibiarkan saja diakui oleh luar negeri akan tetapi di pakai dan di gunakan dari pada punya sendiri tapi malah tidak pernah dipakai dan di gunakan. Malah lebih condong menggunakan yang seharusnya bukan milik kita sendiri. mungkin kebiasaan itu yang harus diubah oleh pola pikir masyakat kita. Agar tetap mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milik kita dan tidak meninggalkan apa yang memang sudah menjadi kewajiban kita sebagai pribumi.
MENULIS SURAT
Oleh Muhammad Wahyu Wibowo
           
Selamat malam juga dan salam kenal untuk Bapak yang sangat sibuk dengan pelbagai urusannya yang sangat padat hingga tiada waktu untuk bersapa salam dalam Penulisan Media Massa.
            Hari demi hari detik demi detik waktu pun terus berlalu, mungkin memang saya melewatkan pelbagai informasi terbaru ataupun kegiatan yang sedang digandrungi oleh anak-anak zaman sekarang. Namun, saya tidak melewatkan hari-demi hari detik demi detikku dengan bermalas-malasan yang hanya melihat telepon genggam dan memandangi pelbagai setatus orang yang mereka tulis dalam pelbagai aplikasi yang hanya berisi curahan hati yang tidak begitu penting, walaupun banyak juga yang menaruh informasi penting. Oleh karena itu saya mengisi kekosongan hari demi hari detik demi detiku saya isi dengan pelbagai macam kegiatan seperti membaca buku walapun tidak semua buku yang saya baca adalah materi pembelajaran. Adapun buku yang lain yang saya baca seperti novel action yang merupakan novel kesukaanku dan ada banyak novel yang lain. Adapula, koran yang saya baca walapun tidak semua koran saya baca diantaranya Suara Merdeka yang sering memberikan informasi terkini dari Jawa Tengah walaupun yang saya cari hanya tentang perkembangan ekonomi dan sastra terbaru yang sedang berkembang akan tetapi harganya relatif mahal hingga 5.500 perkoran. Adapula, media massa lain yang saya baca Teribun Jateng disana saya juga membaca menganai berita yang sedang hangat dibicarakan. Ya, memang terutama di sastra tentunya? Salah satu informasi yang baru saya dapatkan saat sedang makan nasi goreng dan sambil minum es teh malam ini Senin, 17 Oktober 2016 tepatnya. Dalam opini yang ditulis dan dipublikasikan melalui koran Teribun Jateng oleh Bandung Mawardi seorang Kritikus Sastra  mengenai “Memahami Padepokan”. Membuat aku tidak fokus kepada makananku akan tetapi hanya fokus terhadap opini yang ia tulis begitu menarik.
            Tak apa jika Bapak tidak bisa hadir untuk bersapa salam dalam Penulisan Media Massa kali ini. Dengan pelbagai kesibukan yang begitu menyita waktu hingga tak ada sedikitpun ruang di hati kecuali hanya terisi dengan kemuliaan untuk mengembangkan sastra. Ketidak berhadiran Bapak untuk bersapa salam dalam pertemuan kali ini tidak menciutkan saya untuk hanya diam dan bahagia dengan kekosongan yang begitu mencekam pikiran untuk tidak digunakan dalam mempertajam pemahaman. Tidak ada kata lain yang bisa saya ucapkan untuk mewakili semua perjuangan Bapak yang begitu gigih untuk tetap profesional dalam mengajar dan menghadiri pertemuan para kage (pertemuan para sastrawan) yang sering aku sebut begitu. “Terima kasih”. Hanya itu kalimat yang dapat saya sampaikan kepada semua perjuangan Bapak dalam memajukan Sastra dan juga saya dalam pemahaman penulisan media massa. Bisa dilihat dari surat yang Bapak berikan kepada saya secara personal pada paragraf 3 kalimat pertama. Terlihat jelas jika Bapak masih sangat peduli dengan saya walaupun dengan begitu banyak kesibukan yang menyita waktu.
            Hanya doa yang bisa saya panjatkan lalu dendangkan bahkan kumandangkan untuk menyertai keberangkatan Bapak untuk menemui para kage yang ada di Badan Bahasa Jakarta sana.  Semoga pidato bapak dan tafsiran Bapak yang Bapak lontarkan bisa membuat para kage yang lain untuk tergugah kepala yang berisi otak untuk berpikir dada yang dibalut dading dan dilindungi oleh tulang rusuk dan disana ada hati untuk diberikan pencerahan akan masa depan sastra yang akan mendatang. Maaf, jika ada kata ataupun kalimat saya yang tidak begitu berkenan dan kurang sopan karena hanya bermodalkan pemahaman yang masih sedikit saya miliki kemudian saya terapkan dalam berbahasa. Begitu jujur atau mungkin begitu benar Bapak dalam menuliskan kalimat mengenai Mahasiswamu ini yang begitu pandai menutup-nutupi segala kekurangan dan mengurang-ngurangi segala kelebihan. Mungkin ada pelbagai alasan kenapa Mahasiswa-mahasiswamu ini bersikap begitu dingin hingga tak ada sedikitpun ruang di hati keculai hanya berisi dengan dosa, dosa kecil dosa besar hingga menumpuk melebihi sampah-sampah. Namun, tidak semua Mahasiswamu ini begitu bersikap dingin seperti halnya kutub utara yang begitu dingin hingga tak ada orang yang ingin tinggal disana. Ada juga, Mahasiswamu ini bersikap diam dan dingin seperti orang mati namun ia paham akan semua kata atau bahkan kalimat yang Bapak maksudkan. Oleh karena itu, mungkin ia menunjukkan dengan bersikap diam dan dingin untuk tidak mencari perhatian atau bisa dibilang jaga imet. Walaupun, tidak semua seperti itu tapi pasti dia ada.
            Adapula alasan tertentu yang membuat Mahasiswa-mahasiswamu ini begitu diam hingga tidak mau berterus terang dalam berbicara, mengutarakan pendapat, ataupun unek-unek yang berada pada kepala yang dibaluti dengan rambut dan ditutupi oleh kulit yang didalamya terdapat otak yang berisi begitu banyak persoalan dan pertanyaan yang ia pikirkan. Mungkin? Mereka mempunyai begitu banyak pikiran yang ada didalam kepalanya namun tidak pernah berani berterus terang untuk membicarakannya. Biasanya mereka berada dalam kaum minoritas atau kaum yang pendiam dan memang tidak suka banyak bicara. Sesuai filosofi Orang Jawa, siapa mereka yang banyak bicara pasti bakal dikira oleh orang lain tidak baik. Mungkin salah satunya itu, walaupun ada juga yang mengumpulkan keberanian untuk berbicara di depan dengan proses yang begitu lama agar dia benar-benar yakin dan berani mengutarakan pendapatya maupun unek-unek yang berada di dalam kepalanya selama ini dan sudah meluap-luap hingga tak sanggup menampungnya kembali. Akan tetapi, adapula masalah lain yang membuat Mahasiswa-mahasiswamu ini yang berisi begitu banyak persoalan tidak mau membaca dan bahkan malas untuk membaca mungkin mereka belum bisa merasakan membeli buku yang disukai dan membacanya pertama kali. Tetapi, bagi yang sudah memiliki rasa penasaran denga buku yang ia inginkan maka ia akan mencoba membacanya dan memahami setiap kalimatnya dan pasti itu pula yang akan membuat ia membeli buku-buku yang lainnya. Contoh yang mudah saja jika sesorang menyukai novel Harry Potter dan baru membeli buku seri pertama walaupun ada delapan seri dari seluruh novel dan ia sangat menyukai novel tersebut maka dia berusaha untuk membeli dan membacanya. Bahkan belajar dari pengalaman saya sendiri untuk menyobek plastik yng membungkus novel tersebut terasa berat dan sangat eman-eman (dalam bahasa jawa). Untuk menekuk kertasnya saja pun tidak berani bahkan setelah selesai membaca novelnya plastik yang sebelumnya membungkus buku tersebut tidak saya buang akan tetapi saya simpan dan saya gunakan untuk membungkus novel itu kembali karena sangat merasakan suka banget dengan novel. Memang agak sedikit lebay, akan tetapi itulah yang saya lakukan dan ini benar adanya.
              Begitu berpengalamannya Bapak yang jauh lebih dahulu tua dangan mengetahui apa yang dilakukan para Mahasiswa-mahasiwamu ini ketika di kos dengan menebak sedang asyik menata bantal, seprai, dan guling di kamar dan semua itu memang benar adanya bagi saya. Memang benar memaksakan orang untuk memahami maksud orang itu memanglah berat bahkan bisa dikatakan sulit dilakukan tanpa adanya pelbagai macam percobaan yang dilakukan secara nyata dan bukan opini belaka? Menurut saya sediri bagi orang yang bisa mengikuti dengan berbagai proses pembelajaran maka dia akan bisa menyesuaikan denga mudah akan tetapi memang banyak yang tidak bisa menempatkan diri dalam berbagai proses belajar. Seharusnya mereka jauh lebih tau kalau perkembangan zaman itu terus berkembang tidak diam di zaman itu saja. Oleh karena itu, menurut saya mengketegorikan tipe belajar akan jauh lebih efektif untuk membuat pembelajaran lebih aktif dan operasional. Saya meminta maaf jika ada kata ataupun kalimat saya yang kurang begitu berkenan. Karena manusia adalah tempatnya salah dan memang itulah garis yang tidak bisa diubah bahkan dihapuskan.
            Daripada saya berbicara bohong lebih baik tidak bicara saja, hanya diam toh sama-sama tidak ada gunanya juga untuk kita dimasa mendatang. Mungkin cukup ini yang bisa sampaikan untuk membalas semua unek-unek Bapak yang begitu mengelitik dan membuat tertawa ketika membaca suratnya. Walaupun, sebenarnya tidak boleh ditertawkan namun itulah kenyataannya saya baru kali ini membaca surat di buat tugas dan kata-kata bahkan kalimatnya membuat tertawa terpingkal-pingkal dan sedikit membuat mual perut. Surat ini saya tulis dengan sejujur-jujurnya tanpa ada paksaan dari pihak manapun dan surat ini bersifat personal. Saya memohon maaf jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan dalam penulisan surat kali ini. Sampai Jumpa kembali dan salam kenal untuk Bapak. Ya, Salam Tinju Balalala. Salam yang saya gunakan ketika gembira dan bersemangat.


(M.W.W)

MENANGGAPI ESAI MENIMBANG KETIADAAN UN

                                                                                    Oleh Muhammad Wahyu Wibowo

        Sedikit menaggapi tulisan opini berjudul Menimbang (Ketiadaan) Ujian Nasional, memang benar adanya wacana bahwasannya Ujian Nasional akan dihapuskan pada periode 2016 untuk seluruh wilayah yang ada di Indonesia. Akan tetapi masih belum ada ketetapan dari presiden. Jika melihat kedepan bawasannya yang akan di ujikan adalah seluruh materi yang diajarkan di sekolah. Bukan malah mengurangi masalah yang mengira Ujian Nasional manjadi momok bagi para siswa untuk mendapatkan kelulusan. Akan tetapi, melainkan justru malah menambah begitu banyak masalah, bukan hanya dari segi materi yang harus dipelajari. Melainkan justru akan membuat siswa semakin kesuliatan untuk menghadapi Ujian Nasional.

            Jika menengok kebelakang bawasannya para siswa yang pada tahuan sebelum-sebelumnya saja sudah kesuliatan untuk belajar empat materi utama yang akan di ujian dalam Ujian Nasional apalagi dengan sekarang yang malah membuat wacana akan dihapuskan dan menjadikan semua materi pelajaran yang ada menjadi materi ujian nasional. Malahan akan menjadikan siswa jauh lebih tertekan dan bisa-bisa para siswa pesimis dengan mengikuti ujian nasional. Siswa yang seharusnya fokus terhadap empat materi kini dituntut untuk bersiap menghadapi bengitu banyak materi yang ia harus pikirkan, dalami, dan hafalkan. Akan membuat para sisiwa semakin stres dengan materi sekolah saja.

            Tidak banyak memang tidak sependapat dengan adanya wacana tersebut terlebih lagi bawasannya Ujian Nasional dihapuskan hanya karena alasan untuk mengurai pembengkakkan dana ketika adanya Ujian Nasional yang selalu dignakan untuk membayar Polisi dan TNI untuk menjaga soal Ujian Nasional agar tidak bocor dan tersebar sebelum saatnya diujikan kemudian menbayar pengawasan dari perguruan tinggi untuk memberikan uang pesangon guna telah ikut mengawasi jalannya Ujian Nasional. Alasan tersebut saya kira tidaklah tepat. Bukankah memang seperti itu adalah kewajiban bagi negara. Mengapa harus dipermasalahkan? Kemudian menjadikan Ujian Nasional bagian dari sasaran semata untuk di hilangkan. Tidakkah bisa saja itu hanya guna untuk politik belaka atau mungkin bisa saja hanya untuk memberikan rasa tenang kepada siswa agar tidak takut untuk menghadapi Ujian Nasional.

            Namun, adapula orang-orang yang setuju dengan bawasannya Ujian Nasional dihapuskan yang kemudian digantikan dangan ujian sekolah, yang bertumpu di sekolah saja kemudian menunjuk kepada sekolah sepenuhnya untuk memberikan hak untuk lulus atau tidak. Banyak yang sangat setuju dengan rencana tersebut, dipikirnya siswa tidak harus bersusah payah untuk melakukan belajar semalam hanya untuk menghadapi Ujian Nasional seperti sebelum-sebelumnya. Dengan seperti itu, siapapun yang menghadapi ujian sekolah tidak setegang seperti akan menghadapi Ujian Nasional. Diharapkan pemerintah secepatnya untuk memberikan keputusan yang pasti dan resmi guna menerapkan di Ujian Akhir tahun 2016, dengan penuh harapan bahwa akan terealisasi dengan alasan memikirkan masa denpan bukan kepentingan individu semata.

            Akan tetapi, banyak pula orang yang menentang dengan adanya wacana bawasannya Ujian Nasional akan dihapuskan kemudian digantikan dengan ujian sekolah yang hanya menunjuk sekolah untuk menjadi penentu kelulusan hanya guna melanjutkan pembelajaran ke jenjang lebih tinggi tanpa susah payah. Tidak semudah itu, semakin tinggi sekolah dan semakin tinggi pembelajaran apalagi dengan berkembangnnya zaman seperti sekarang ini. Pemerintah seharusnya lebih bijak dalam menyikapi hal seperti ini dan memikirkan matang-matang bawasannya Ujian Nasional akan dihapuskan. Gimana kalau Ujian Nasional benar-benar dihapuskan? Apakah akan menjamin kemashuran siswa di masa mendatang atau bahkan sebaliknya malah akan menjerumuskan penerus bangsa pada zona yang tanpa ujung kepastian.


            Harapannya bawasannya pemerintah tidak hanya akan memutuskan begitu mudah hanya dengan alasan-alasan yang kurang di terima, setidaknya berpikir lebih matang dengan mengedepankan masa depan penerus bangsa yang ideal bukan hanya dari segi kemampuan eksternal akan tetapi melalui internal pemikiran pula. Jika kita mengedapankan hal semacam itu, tanpa ada kata lain yang mengikuti atau bahkan alasan lain yang mengikuti dari belakang maka bisa saja kita akan mencetak generasi-generasi ideal yang sesuai. Lebih unggul dalam bersaing di masyarakat asean pada saat ini. Jika menengok ke negara lain seperti tiongkok. Bawasannya ia hanya menerapkan sistem sekolah enam jam sehari dan dua jam praktik itu pula hanya satu makul dala sehari. Akhirnya ia juga bisa mencetak generasi yang ideal. Kenapa kita tidak sedikit mencontoh dan menerapkan hal yang semacam itu guna memperbaiki reputasi belajar siswa. Itu juga bisa dipastikan akan berhasil karena sudah teruji di negara maju. Semoga pemerintah sedikit menimbang kembali bawasannya Ujian Nasional akan dipuskan kemudian digantikan dengan Ujian Sekolah yang pastinya belum akan berhasil kedepannya. Lebih baik memakai metode yang sudah ada dengan catatan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sebelumnya terjadi kemudian dijadikan evaluasi kedepannya agar menjadi lebih baik dan tertata dengan struktural tanpa adanya keputus asaan seperti sekarang ini. 

AWALAN MENJADIKAN PEMBEDA
Oleh Muhammad Wahyu Wibowo
Esai yang dutulis oleh Unggul Putro Sambodo pada tanggal 13 Oktober 2016 mengenai pementasan “Jaka Tarub yang Terasa Baru dan Menyegarkan” hanya menulis ulang mengenai pementasan yang diperankan oleh aktro dan aktris mengenai cerita Jaka Tarub oleh Teater Gema dari Universitas PGRI Semarang yang dipentaskan bertempat di Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang Selasa, 04 Oktober 2016 lalu.
Ia luput dalam pandangan penonton yang menyaksikan bukan hanya dari kalangan Mahasiswa saja. Akan tetapi, ada juga dari kalangan siswa maupun siswi SMK-SMA Sederajat yang hadir dalam barisan penonton. Adapula, penikmat sejarah yang hadir dalam pementasan. Ia juga hanya menceritakan urutan-urutan cerita yang dipentaskan, bukankah masih banyak yang perlu diperhatikan melainkan hanya menulis ulang alur cerita atau bahkan sesuai apa yang diperankan seperti kelemahan para pemain, bagaimana respon penoton terhadap cerita yang diperankan dan banyak lagi yang lain.
            Bagi kalangan pencinta seni peran seperti drama, teater, dan lenong. Tampilan awal yang gelap gulita dan sunyi adalah hal yang biasa dan sering terjadi di semua pementasan drama, teater, dan lenong. Hal itu adalah salah satu cara sutradara dalam memberikan kesan untuk penonton dan memperjelas sketsa aktor dan aktris saat bermain peran. Adapula, tidak semua penoton dibuat kaget dengan awalan yang gelap gulita, kebanyakan pasti anak-anak zaman sekarang sudah paham dengan hal yang seperti itu, apalagi yang menyaksikan berasal dari kalangan Mahasiswa dan pelajar yang pasti sering pergi kebioskop disana juga sama diawali dengan kegelapan yang begitu pekat dan sunyi.
            Sebuah pemilihan awalan yang menarik dalam pementasan Jaka Tarub memang sedikit berhasil merebut perhatian penonton yang sudah terbiasa dengan kisah Jaka Tarub yang biasanya menunjukkan sang Jaka terlebih dahulu. Penonton dibuat bertanya-tanya tentang siapakah pria tua dan anak perempuan cantik nan manis itu, apapula hubungannya dengan kisah Jaka Tarub. Namun, berbeda dengan penikmat sejarawan yang dipentaskan melalui seni peran. Beliau pasti tau siapa yang sedang tidur sambil menggigau dan berteriak-teriak saat malam purnama. Karena hal seperti itu sudah sering sekali perankan ditelevisi. Pasti para penikmat sejarawan sudah bisa menebak dengan hal seperti itu bahkan adapula yang bisa menebak bagaimana cerita akhir dalam pementasan selain ”Sutradara”.
Sedikit sependapat dengan halnya apa yang ditulis Unggul adanya selingan yang tidak ada kaitannya dengan cerita Jaka Tarub itu juga merupakan hal yang menarik untuk diperhatikan karena selingan tersebut dibuat sebagai selingan atau penyambung cerita agar tidak terlihat monoton atau biasa sering disebut sebagai iklan untuk menyambungkan cerita saat Jaka Tarub masih muda dan sudah tua. Begitu menarik perhatian hingga bisa memecahkan suasana yang awalnya sunyi dibuat lucu seketika dengan hadirnya dua orang pemuda yang hadir untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa.
Hingga akhir cerita, tidak ada perbedaan yang cukup menonjol antara kisah Jaka Tarub yang selama ini kita kenal dengan yang ditunjukkan oleh para aktris dan aktor. Hanya saja, rasa pembaruan masih terasa pada bagian akhir. Di mana terjadi pengulangan adegan saat sang pria tua terbangun. Inilah cara yang baru dan memberikan kesan bagus utnuk pembukaan sebuah pementasan cerita yang kadang masih identik dengan prolog, tentang bagaimana sang Jaka Tarub tua yang memimpikan kisah mudanya dahulu.
Akan tetapi dalam esai yang di tulis oleh unggul juga luput dalam memperhatikan seperti bagaimana peran sang aktris ataupun aktor dalam memerankan peran masih-masing secara totalitas dan mendalami, contoh saja seperti halnya jalannya seorang bidadari yaitu nawang wulan istri dari jaka tarub saat Ia ingin pergi kesungai untuk mencuci baju dan mengambil air. Sang aktris tampak sangat tidak mendalami berperan sebagai seorang bidadari ia berjalan seperti seorang manusia biasa. Seharusnya bukankah Ia harus bisa memperkirakan bagaimana prilaku seorang bidadari dan bagaimana cara berjalannya. Ia juga luput dalam memperhatikan backsound saat penampilan. Bukankah itu juga merupakan hal yang penting untuk diperbincangkan, saat pementasan Jaka Tarub dan Tujuh Bidadari ketika bidadari mandi di sungai kenapa tidak dikasih suara gemericik air atau air terjun untuk mengambarkan bawasannya itu sedang mandi di air terjun. Adapula, suara jangkrik yang berbunyi saat malam hari untuk mengambarkan saat jaka tarub mengigau pada malam purnama. 

Melalui peran sang aktris, sutradara bisa membuat kenangan atau pengingat kembali tentang adanya sejarah besar yang terjadi pada zaman dahulu. Itu pula, yang membuat penonton akan selalu teringat dengan adanya sejarah besar yang pernah terjadi di masa lampau. Bagi, para sejarawan atau penikmat sejarah melalu seni peran, sejarah merupakan kesepakatan pasti yang harus diperankan, dikenang, dan diwariskan untuk mengingat apa saja bukti-bukti yang pernah terjadi dan benar adanya bukan hanya bualan ataupun opini belaka.

MENANGGAPI ESAI MEMBANGUN KOTA DENGAN SENI



Menanggapi esai yang Bapak tulis mengenai “Membangun Kota dengan Seni”. Apakah memang diperlukan untuk membangun kota dengan seni? Bukankah Pemerintah mengusungkan rencana pembangunan infrastruktur itu juga ditujukan untuk kota itu sendiri dan bisa di anggap juga memperbarui filosofis kota tanpa meninggalkan filosofis kota yang lama. Adupula, yang Bapak tulis mengenai bahwa para seniman bisa jadi tumpuan utama untuk mengedepankan nilai kultural dan filosofis kota. Lalu upaya apa saja yang sudah di berikan oleh seniman-seniman di kota tersebut untuk mempertahankan nilai filosifis dan kultural kota itu sendiri? Seperti halnya, taruhlah festival FKY(Festival Kesenian Yogyakarta), lalu Dieng Culture Festival yang sudah menjadi agenda rutin tahunan Festival Kesenian. Belum lagi seniman-seniman muda ataupun kawakan yang kebanyakan diantara mereka masih dihinggapi perasaan Apologia? Oleh karena itu, upaya apa saja yang bisa menjadi pelopor untuk meghilangkan perasaan tersebut dan membuatnya menjadi penentu perubahan bagi seniman-seniman yang masih memiliki perasaan Apologia.
Akan tetapi, di lain hal Saya juga setuju untuk jika para seniman-seniman muda dan kawakan bisa berkolaborasi untuk merealisasikan untuk membuat acara tahunan yang ditujukan untuk mengenali kultural dan filosofis Kota Kendal seperti halnya Kendal Expo 2016 yang lalu.

Muhammad Wahyu Wibowo (3E)KOMENTAR P.M

Opini

Opini mengenai “Kejujuran dan Tata Kelola yang Baik”. Oleh Adi Ekopriyono yang terbit melalui Suara Merdeka Sabtu, 24 September 2016 begitu menarik perhatian. Perlu waktu lama untuk mengubah prilaku jujur atau kebiasaan orang di zaman moderen seperti sekarang ini. Jika Presiden Jokowi menekankan kepada setiap orang untuk dapat menang dalam persaingan di era globalisasi sangatlah sulit, walaupun diwujudkan dengan unsur publik dan privat atau sering disebut public privat partnership. Kenapa? Karena masih begitu banyak kekurangan pemerintah dalam pemerhatian lapangan pekerjaan dalam dunia usaha untuk mendorong kemajuan seseorang dan bangsa itu sendiri. Dalam  konteks ini seseorang yang memiliki bisnis yang besar dan maju akan cenderung berprilaku menipu dan melakukan kebohongan.  
            Memang benar berbagai referensi  menyebutkan, kejujuran dan pengendalian diri merupakan standar moral dalam etika keutamaan. Jujur dalam arti tidak melakukan kebohongan, penipuan, dan pratik-praktik bisnis tidak terpuji lain. Akan tetapi, itu mungkin memang berlaku bagi orang-orang yang sadar. Sayangnya, standar moral tersebut sekarang menjadi barang langkah, baik dalam dunia bisnis maupun penyelengaraan pemerintahan, jumlah orang jujur dan mampu mengendalikan diri untuk tidak berprilaku tidak bermoral seperti korupsi, menerima suap, dan melakukan penipuan makin sulit dicari. Pengaruh budaya barat yang semakin tidak terbendung juga menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam berprilaku tidak bermoral dan menghargai sesama.
            Karenannya dalam bisnis tidak mengenal lawan atau teman abadi, karena yang abadi hanya kepentingan diri sendiri. Untuk itu seharusnya pemerintah memikirkan bagaimana memberikan lapangan perkerjaan untuk warga negara dahulu dalam hal ini nanti akan timbul prilaku bermoral untuk dapat bersaing dalam era globalisasi seperti sekarang ini.
             Dalam konteks ini peran setiap personal untuk memajukan tindak prilaku bermoral utama memang sudah sangat bagus seperti mengadakan seminar dan membuat kegiatan yang mendukung terciptanya tindak prilaku bermoral. Akan tetapi, cukupkah hanya dengan mengadakan seminar dan kegiatan yang mendukung terciptanya prilaku bermoral? Dan lagi, seminar yang diadakan hanya di kampus dan pesertanya juga Mahasiswa dan Mahasiswi, bagaimana dengan mereka yang tidak mampu dan juga membutuhkan. Bukankah mereka juga membutuhkan informasi dan cara bagaimana meningkatkan moral dalam menghadapi dunia kerja. Kebanyakan orang memang mengadakan seminar dan sebagianya untuk meningkatkan moral dalam dunia kerja. Akan tetapi lapangan perkerjaan itu sendiri juga menjadi hambatan lalu bagaimana upaya pemerintah untuk menangani hal ini. 

Selasa, 11 Oktober 2016

Monolog Balada Sumarah
Oleh Muhammad Wahyu Wibowo
            Selasa 4 Oktober 2016, teater Gema di Gedung Pusat Lantai 7 Universitas PGRI Semarang dibuka dan ditampilkan ke khalayak umum untuk memantapkan diri mewakili Jawa Tengah dalam ajang Teater Monolog Nasional. Sekitar 200 penoton dari Mahasiswa dan Siswa-Siswi SMA menyaksikan pagelaran tersebut. Adapula, yang memadati bangku penonton adalah Mahasiswa Universitas PGRI Semarang lebih tepatnya Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni yang penasaran dengan bagaimana Monolog Balada Sumarah itu sendiri sebagai pembelajaran untuk bekal dalam penerapan mengajar.
            Teater Gema yang sebelumnya menampilkan Monolog Balada Sumarah dalam ajang perlombaan tingkat Jawa Tengah berambisi untuk mendapatkan juara 1. Puji tuhan, Teater Gema mendapatkan juara 1 dan berhak mewakili Jawa Tengah dalam ajang Teater Monolog Nasional di Sumatra. Setelah mendapatkan amanat dari daerah Jawa Tengah untuk mewakili dalam tingkat Nasional. Teater Gema bertekad kembali untuk menampilkan penampilan terbaik agar bisa menjuarai Teater Monolog Nasional seperti tahun sebelumnya. Pada tahun sebelumnya juara Teater Monolong Nasional telah di pegang oleh daerah Jawa Tengah. Oleh karena itu, teater Gema bertekad untuk mempertahankan dan menjuarai kembali Monolog Nasional yang dua tahun berturut-turut dipegang oleh daerah Jawa Tengah. Dengan langkah hati-hati namun pasti para aktor dan aktris memainkan peran dengan total dan mendalami tiap karakter. Agar dapat menampilkan penampilan secara natural dan tidak nampak seperti sedang memainkan peran. Para penoton saat menyaksikan penampilan pertama seperti terhipnotis dalam cerita dan ikut merasakan kedalam cerita. Para penoton dengan hikmat tiada yang beranjak dari bangku penonton mereka benar-benar terhipnotis oleh penampilan aktris berusaha mendalami benar-benar peran Ia. Itu pula yang menjadi pelajaran bagi para Mahasiswa dan siswa-siswi SMA agar dalam menampilkan apapun harus didasari oleh totalis pemain dan penjiwaan penuh dari setiap pemain maupun peran pendukung lainnya. Adapula, bagi para pencinta teater atau seni peran menjadikan motivasi agar bisa lebih mendalami bagaimana bermain peran yang baik dan bisa memukau penonton.
             Saat pertama kali memasuki ruangan penonton sudah disajikan dengan tampilan gelap gulita yang sering dilihat saat teater-teater lainnya. Ditengah panggung terdapat kotak besar dan hanya di sorot oleh satu lampu warna kuning. Tanpa disadari oleh penonton lainnya ternyata terdapat seorang aktris yang berperan sebagai Sumarah. Ia tiba-tiba berteriak dari dalam kotak dan tidak di sorot oleh lampu sang aktris memakai pakaian warna putih yang membuat penonton perempuan menutup mata secara tiba-tiba dikarenakan takut. Namun,  seperti penonton seakan-akan merasakan sendiri kedalam monolog yang digambarkan dan diperankan total oleh aktris. Penonton yang sebelum menonton pentas Monolog hanya berpikiran mungkin penampilannya hanya biasa-biasa saja seperti monolog-monolog lain terpatahkan oleh penampilan total aktris yang memerankan sebagai Sumarah sang anak pembokat PKI.
            Dalam pentas Monolog ini tubuh aktris bergerak mengambarkan tempat dan suasana yang sedang Ia hadapi. Kata-kata yang dilontarkan untuk menjelaskan percakapan atau kondisi yang sedang Ia alami. Hal itu menjadikan sihir tersendiri kepada penonton yang hikmat memperhatian monolog Sumarah untuk membawa penonton kedalam cerita dan ikut meraskan apa yang Ia alami. Semua itu, ditunjukan dengan sempurna oleh aktris yang memarankan Sumarah. Oleh karena itu, pagelaran pentas seni Monolog Balada Sumarah yang disajikan oleh teater Gema merupakan kisah atau peristiwa sejarah yang sampaikan dalam miniatur monolog. Namun, tetap saja perjalanan sejarah dihadirkan dengan konflik yang kompleks melalui teks yang dibaca oleh pemeran dengan cara disampaikan memalui peran yang digambarkan oleh aktris melalui percakapan dan gerak tubuh. Memalui peran yang digambarkan oleh aktris melalui percakapan dan gerak tubuh membuat para penonton berimprovisasi dalam benak fikiran masing-masing. Dengan bukti nyata sejara besar yang telah ditulis oleh sutradara melalui monolog maupun dialong.
            Melalui peran sang aktris, sutradara bisa membuat kenangan atau pengingat kembali tentang adanya sejarah besar yang terjadi pada zaman dahulu. Itu pula, yang membuat penonton akan selalu teringat dengan adanya sejarah besar yang pernah terjadi di masa lampau. Bagi, para sejarawan atau penikmat sejarah melalu seni peran, sejarah merupakan kesepakatan pasti yang harus diperankan, dikenang, dan diwariskan untuk mengingat apa saja bukti-bukti yang pernah terjadi dan benar adanya bukan hanya bualan ataupun opini belaka.

            Dengan adanya pentas Monolog Balada Sumarah oleh teater Gema mengingatkan kepada kita semua sebagai penonton tentang kesulitan kehidupan pada zaman dahulu, tetang sejarah besar pemberantasan PKI yang pernah ada di negara ini dan membuat penduduk pribumi yang tidak bersalah tersangkut dan dikucilkan oleh sesama hanya karena dianggap sebagai kaki tangan PKI.