BEDAH BUKU UPGRIS
Oleh Muhammad Wahyu Wibowo
Rabu, 18 Oktober 2016 lalu telah
diselengarakan sebuah bedah buku yang bertajuk 3 kritikus 3 pembaca 1 pengarang
diadakan oleh Universitas PGRI Semarang bertempat di Balairung Universitas PGRI
Semarang. Semua pendengar maupun penonton yang mayoritas adalah Mahasiswa
Universitas PGRI Semarang sendiri serentak memakai pakaian Batik dan mengunakan
celana bahan yang identik mengambarkan bahwa seorang pendidik. Oleh karena itu
seluruh Mahasiswa yang menghadiri diwajibkan memakai pakaian batik untuk mengajarkan
memberi contoh bahwa mereka adalah calon pendidik yang memiliki moral dan
berjiwa loyalitas. Acara tersebut diselengarakan oleh Universitas PGRI Semarang
guna memberikan apresiasi kepada salah satu penyair Sastra yaitu Triwiyoko yang
begitu banyak halangan menghadang masih tetap mempertahankan untuk menjadi
seorang penyair aktif dan masih di perhitungkan oleh sastrawan-sastrawan di
seluruh penjuruh nusantara bahkan di dunia. Beberapa karya beliau telah di
terjemahkan kedalam bahasa inggris guna mempelajari apa itu sastra oleh orang
barat.
Begitu memasuki gedung yang begitu
megah kita khususnya Mahasiswa dan seluruh penonton di buat tercengang dengan
yang ada di dalamnya telah di dekor untuk memberikan penghargaan kepada seorang
penyair. Di dalam gedung telah dipenuhi oleh orang-orang penikmat sastra yang
ingin menyaksikan bedah buku oleh penyair sastra yang diadakan pada Rabu, 18
Oktober 2016 di Universitas PGRI Semarang. Penataan lampu yang hanya
berwarnakan kuning remang-remang disorotkan kepada dua orang penari dansa untuk
memberikan pencahayaan terhadap aktris dan aktor yang sedang menari dengan
lemah gemulai memikuti alunan lagu melo dan membuat orang hanyut terhadap
alunan lagu yang dibawakan. Adapula setelah pemain dansa selesai lansung
diganti dengan penampilan yang begitu membuat orang-orang bertanya dengan apa
yang dilakukan oleh 7 orang perempuan 6 menghadap ke cermin dan 1 orang
menghadap penoton. Apa yang dilakukan oleh perempuan-perempuan itu, lalu apa
maksudnya? Ternyata dibalik penampilan 7 orang perempuan yang menghadap cermin
sambil membacakan salah satu karya puisi yaitu untuk menghargai dan memberikan
ucapan selamat datang terhadap penyair Triwiyoko. Namun, sayang tak berjalan
dengan apa yang telah diharapkan bagaikan katak merindukan hujan.
Peradaban modern memang telah
merubah segalanya tak terkecuali kebiasaan masyarakat terutama anak muda zaman
sekarang lebih condong untuk bermain handphone dibandingkan dengan bermain
bersama teman-temannya. Begitu pula cara anak muda zaman sekarang yang dianggap
kurang mampu menghargai antar sesama. Pemertahanan bahasa yang dahulunya masih
khas dan kental dengan kehidupan cara bermasyarakat pribumi, sekarang semakin
lama semakin luntur dan hilang tanpa memikirkan bagaimana dampak yang akan
terjadi selanjutnya.
Masyarakat kita hanya akan mengakui
bahasa kita atau mengakui semua budaya dan kebiasan kita, ketika semua itu
diambil dan diadopsi oleh bangsa dan negara lain, bagaimana semestinya yang
harus dipertahankan. Akan tetapi, ketika sudah diambil oleh negara kita kembali
budaya itu akan dibiarkan kembali oleh masyarakat kita. Lalu mengpa diambil
kembali oleh negara kita kalau hanya dibiarkan dan dilupakan.
Lebih baik dibiarkan saja diakui
oleh luar negeri akan tetapi di pakai dan di gunakan dari pada punya sendiri
tapi malah tidak pernah dipakai dan di gunakan. Malah lebih condong menggunakan
yang seharusnya bukan milik kita sendiri. mungkin kebiasaan itu yang harus
diubah oleh pola pikir masyakat kita. Agar tetap mempertahankan apa yang
seharusnya menjadi milik kita dan tidak meninggalkan apa yang memang sudah
menjadi kewajiban kita sebagai pribumi.