Rabu, 21 Desember 2016

BEDAH BUKU UPGRIS
Oleh Muhammad Wahyu Wibowo
           
            Rabu, 18 Oktober 2016 lalu telah diselengarakan sebuah bedah buku yang bertajuk 3 kritikus 3 pembaca 1 pengarang diadakan oleh Universitas PGRI Semarang bertempat di Balairung Universitas PGRI Semarang. Semua pendengar maupun penonton yang mayoritas adalah Mahasiswa Universitas PGRI Semarang sendiri serentak memakai pakaian Batik dan mengunakan celana bahan yang identik mengambarkan bahwa seorang pendidik. Oleh karena itu seluruh Mahasiswa yang menghadiri diwajibkan memakai pakaian batik untuk mengajarkan memberi contoh bahwa mereka adalah calon pendidik yang memiliki moral dan berjiwa loyalitas. Acara tersebut diselengarakan oleh Universitas PGRI Semarang guna memberikan apresiasi kepada salah satu penyair Sastra yaitu Triwiyoko yang begitu banyak halangan menghadang masih tetap mempertahankan untuk menjadi seorang penyair aktif dan masih di perhitungkan oleh sastrawan-sastrawan di seluruh penjuruh nusantara bahkan di dunia. Beberapa karya beliau telah di terjemahkan kedalam bahasa inggris guna mempelajari apa itu sastra oleh orang barat.
            Begitu memasuki gedung yang begitu megah kita khususnya Mahasiswa dan seluruh penonton di buat tercengang dengan yang ada di dalamnya telah di dekor untuk memberikan penghargaan kepada seorang penyair. Di dalam gedung telah dipenuhi oleh orang-orang penikmat sastra yang ingin menyaksikan bedah buku oleh penyair sastra yang diadakan pada Rabu, 18 Oktober 2016 di Universitas PGRI Semarang. Penataan lampu yang hanya berwarnakan kuning remang-remang disorotkan kepada dua orang penari dansa untuk memberikan pencahayaan terhadap aktris dan aktor yang sedang menari dengan lemah gemulai memikuti alunan lagu melo dan membuat orang hanyut terhadap alunan lagu yang dibawakan. Adapula setelah pemain dansa selesai lansung diganti dengan penampilan yang begitu membuat orang-orang bertanya dengan apa yang dilakukan oleh 7 orang perempuan 6 menghadap ke cermin dan 1 orang menghadap penoton. Apa yang dilakukan oleh perempuan-perempuan itu, lalu apa maksudnya? Ternyata dibalik penampilan 7 orang perempuan yang menghadap cermin sambil membacakan salah satu karya puisi yaitu untuk menghargai dan memberikan ucapan selamat datang terhadap penyair Triwiyoko. Namun, sayang tak berjalan dengan apa yang telah diharapkan bagaikan katak merindukan hujan.
            Peradaban modern memang telah merubah segalanya tak terkecuali kebiasaan masyarakat terutama anak muda zaman sekarang lebih condong untuk bermain handphone dibandingkan dengan bermain bersama teman-temannya. Begitu pula cara anak muda zaman sekarang yang dianggap kurang mampu menghargai antar sesama. Pemertahanan bahasa yang dahulunya masih khas dan kental dengan kehidupan cara bermasyarakat pribumi, sekarang semakin lama semakin luntur dan hilang tanpa memikirkan bagaimana dampak yang akan terjadi selanjutnya.
            Masyarakat kita hanya akan mengakui bahasa kita atau mengakui semua budaya dan kebiasan kita, ketika semua itu diambil dan diadopsi oleh bangsa dan negara lain, bagaimana semestinya yang harus dipertahankan. Akan tetapi, ketika sudah diambil oleh negara kita kembali budaya itu akan dibiarkan kembali oleh masyarakat kita. Lalu mengpa diambil kembali oleh negara kita kalau hanya dibiarkan dan dilupakan.

            Lebih baik dibiarkan saja diakui oleh luar negeri akan tetapi di pakai dan di gunakan dari pada punya sendiri tapi malah tidak pernah dipakai dan di gunakan. Malah lebih condong menggunakan yang seharusnya bukan milik kita sendiri. mungkin kebiasaan itu yang harus diubah oleh pola pikir masyakat kita. Agar tetap mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milik kita dan tidak meninggalkan apa yang memang sudah menjadi kewajiban kita sebagai pribumi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar