Senin, 17 September 2018

Naskahh Drama

Terjal Bukanlah Jalanku
Oleh Muhammad Wahyu Wibowo
15410196

          Dua (2) sorot lampu berwarna putih terang dari samping kiri dan kanan ditujukan kepada seorang aktor Yusuf yang sedang duduk di tengah set panggung. Yusuf sedang duduk melamun memikirkan kehidupannya yang berubah derastis dengan berjalannya zaman.
Yusuf           :“hah (sambil duduk ia menghela nafas), Berbagai cobaan silih                 berganti berdatangan bahkan tidak jarang datang secara                           bersamaan (sambil memandang ke atas merenungi hidupnya)”.
Yusuf                    :“Guna makan sehari saja sudah susah apalagi saya tahu bawasanya                   istri sedang hamil lima bulan dan saya harus menabung untuk                            keperluan persalinannya nanti (memasang muka sedih). Namun,                               belum saja uang terkumpul untuk keperluan istrinya bersalin                              cobaan lainpun datang (memasang muka sedih namun ingin marah)”.
         
          Sorot lampu yang awalnya terang benerang kemudian sedikit demi sedikit meredup hingga kemudian gelap gulita. Cerita baru dimulai dengan memunculkan berbagai aktris beserta aktor lain dalam setting kedua.
          Lampu putih terang dari kiri, tengah, dan kanan menyorot kepada aktris cilik Lina  yang sedang merayakan hari ulang tahun di ruang tamu bersama keluarga juga teman-teman sebayanya.
Lina             :“Untuk menggapai cita-cita yang sudah aku impi-impikan sejak aku                  masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Cita-citaku saat kecil                           adalah untuk menjadi seorang jurnalis yang terkenal dan handal                  dalam menceritakan berita (sambil meniup lilin ia berdoa untuk                           harapannya)”.

Namun takdir berkata lain tidak sama dengan apa yang Lina pikirkan dan harapkan. Semua hanya sebatas hayalan yang selalu hadir didalam benak pikiran dan tidak akan pernah tercapai.(Bunyi backsoud suasana mencekam melihat Lina terjatuh tak sadarkan diri saat sedang meniup lilin) sorot lampu sedikit demi sedikit mulai memudar yang kemudian di ikuti sorot lampu yang tak menyala.
          Lampu satu berwarna putih di hadapkan kepada dua aktris yang Berlatarkan di kamar Lina. Saat kecil aku pernah bertanya kepada ibuku.
Lina             :“ibu kenapa aku tidak sama seperti anak perempuan lainnya. Kenapa                aku tidak bisa lari cepat seperti yang lainnya bu(sambil memandang              ke wajah sang ibu dengan nada sedikit sendu)?”
Misri           :“kamu itu spesial nak(mengelus rambut Lina), kamu di ciptakan                        tuhan untuk berjalan menghadapi dunia ini tidak perlu lari                               cepat(menghadap ke wajah Lina pula mengengam tanga Lina),                              karena kamu ketika besar nanti akan jadi orang hebat yang tanpa               perlu bersusah payah untuk lari mendapatkan apa yang sudah kamu                 cita-citakan nak(memasang mimik wajah tersenyum gembira)”.
Lina             :“Mengapa aku memiliki penyakit ini Bu!”
Misri           :“Karena tuhan sayang sama kamu nak, tuhan memberikan cobaan                      pasti ada manfaatnya diakhir nak maka itu percayalah(sambil                          tersenyum untuk meyakinkan)”
Misri           :“Ya sudah hari sudah semakin malam saatnya kamu tidur biar besok                 bisa cepat kembali pulih lagi(memasangkan selimut ke tubuh Lina)”
Lina             :“Baik Bu(sambil tersenyum, namun memikirkan mengenai                                  penyekitnya)”.

          Sambil berjalan keluar kamar Lina, Misri meneteskan air mata diikuti sorot lampu yang kemudian gelap gulita. Berlanjut keesokan harinya Lina terlihat riang gembira ingin berangkat ke sekolah.
Misri           :“Lina( sambil berteriak dari meja makan), kamu sudah siap                              berangkat ke sekolah belum?”
Lina             :“Iya Ibu(berteriak, sambil memakai baju sekolah dengan buru-                       buru)”.   
Lina             :“Aku sudah siap(berjalan keluar kamar menuju meja makan yang                      sudah ada ayah dan ibu)”.
Yusuf           :“Wah, anak ayah cantik sekali hari ini udah gitu wangi pula                              (memasang mimik wajah merayu)”.
Misri           :“Anak ibu kelihat cantik pagi ini, udah siap untuk sekolah nak(menyiapkan sarapan di meja makan?”
Lina             :“Ah(menjawab dengan sinis namun merasakan suka di puji), ayah                      sama ibu berlebihan aku kan memang cantik”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar