Terjal Bukanlah Jalanku
Oleh Muhammad Wahyu Wibowo
15410196
Dua (2) sorot lampu berwarna putih
terang dari samping kiri dan kanan ditujukan kepada seorang aktor Yusuf yang
sedang duduk di tengah set panggung. Yusuf sedang duduk melamun memikirkan
kehidupannya yang berubah derastis dengan berjalannya zaman.
Yusuf :“hah
(sambil duduk ia menghela nafas), Berbagai cobaan silih berganti
berdatangan bahkan tidak jarang datang secara bersamaan (sambil memandang ke atas merenungi
hidupnya)”.
Yusuf
:“Guna makan sehari
saja sudah susah apalagi saya tahu bawasanya istri sedang hamil lima bulan dan saya harus
menabung untuk keperluan persalinannya nanti (memasang muka
sedih). Namun, belum saja uang terkumpul untuk keperluan
istrinya bersalin cobaan lainpun datang (memasang muka sedih
namun ingin marah)”.
Sorot lampu yang awalnya terang
benerang kemudian sedikit demi sedikit meredup hingga kemudian gelap gulita. Cerita
baru dimulai dengan memunculkan berbagai aktris beserta aktor lain dalam setting
kedua.
Lampu putih terang dari kiri, tengah,
dan kanan menyorot kepada aktris cilik Lina yang sedang merayakan hari ulang tahun di
ruang tamu bersama keluarga juga teman-teman sebayanya.
Lina :“Untuk menggapai cita-cita yang
sudah aku impi-impikan sejak aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Cita-citaku saat kecil adalah untuk menjadi seorang jurnalis yang
terkenal dan handal dalam menceritakan berita (sambil meniup
lilin ia berdoa untuk harapannya)”.
Namun takdir
berkata lain tidak sama dengan apa yang Lina pikirkan dan harapkan. Semua hanya
sebatas hayalan yang selalu hadir didalam benak pikiran dan tidak akan pernah
tercapai.(Bunyi backsoud suasana mencekam melihat Lina terjatuh tak
sadarkan diri saat sedang meniup lilin) sorot lampu sedikit demi sedikit mulai
memudar yang kemudian di ikuti sorot lampu yang tak menyala.
Lampu satu berwarna putih di hadapkan
kepada dua aktris yang Berlatarkan di kamar Lina. Saat kecil aku pernah
bertanya kepada ibuku.
Lina :“ibu kenapa aku tidak sama seperti
anak perempuan lainnya. Kenapa aku tidak bisa lari cepat seperti yang
lainnya bu(sambil memandang ke wajah sang ibu dengan nada sedikit sendu)?”
Misri :“kamu itu spesial nak(mengelus
rambut Lina), kamu di ciptakan tuhan untuk berjalan menghadapi dunia ini
tidak perlu lari cepat(menghadap ke wajah Lina pula mengengam
tanga Lina), karena kamu ketika besar nanti akan jadi
orang hebat yang tanpa perlu bersusah payah untuk lari mendapatkan
apa yang sudah kamu cita-citakan nak(memasang mimik wajah
tersenyum gembira)”.
Lina :“Mengapa aku memiliki penyakit ini
Bu!”
Misri :“Karena tuhan sayang sama kamu nak,
tuhan memberikan cobaan pasti ada manfaatnya diakhir nak maka itu
percayalah(sambil tersenyum untuk meyakinkan)”
Misri :“Ya sudah hari sudah semakin malam
saatnya kamu tidur biar besok bisa cepat kembali pulih lagi(memasangkan
selimut ke tubuh Lina)”
Lina :“Baik Bu(sambil tersenyum, namun
memikirkan mengenai penyekitnya)”.
Sambil berjalan keluar kamar Lina,
Misri meneteskan air mata diikuti sorot lampu yang kemudian gelap gulita.
Berlanjut keesokan harinya Lina terlihat riang gembira ingin berangkat ke
sekolah.
Misri :“Lina( sambil berteriak dari meja
makan), kamu sudah siap berangkat ke sekolah belum?”
Lina :“Iya Ibu(berteriak, sambil memakai
baju sekolah dengan buru- buru)”.
Lina :“Aku sudah siap(berjalan keluar
kamar menuju meja makan yang sudah ada ayah dan ibu)”.
Yusuf :“Wah, anak ayah cantik sekali hari
ini udah gitu wangi pula (memasang mimik wajah merayu)”.
Misri :“Anak ibu kelihat cantik pagi ini,
udah siap untuk sekolah nak(menyiapkan sarapan di meja makan?”
Lina :“Ah(menjawab dengan sinis namun
merasakan suka di puji), ayah sama ibu berlebihan aku kan memang cantik”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar